Selera dunia terhadap minyak tidak menunjukkan tanda-tanda melambat, namun memperkirakan berapa lama pasokan kita akan bertahan menjadi semakin rumit. Tantangannya bukan berasal dari kekurangan minyak itu sendiri, tetapi lebih kepada bagaimana kita mendefinisikan dan mengukur apa yang sebenarnya dapat diambil.
Masalah Pengukuran Cadangan
Ketika organisasi energi besar seperti BP memberikan estimasi cadangan, mereka biasanya mengandalkan “cadangan terbukti”—pada dasarnya, jumlah minyak yang diyakini perusahaan dapat diekstraksi dengan menguntungkan menggunakan teknologi saat ini. Pada tahun 2014, BP memperkirakan bahwa cadangan terbukti Bumi akan bertahan sekitar 53 tahun pada tingkat produksi saat itu, berdasarkan total 1,688 triliun barel. Namun, angka ini hanya menceritakan sebagian dari cerita.
Jumlah minyak sebenarnya yang berada di bawah permukaan Bumi jauh melebihi estimasi konservatif ini. Jarak ini ada karena cadangan yang terbukti tidak memperhitungkan minyak yang lebih sulit diakses atau memerlukan kemajuan teknologi untuk mengekstrak secara ekonomi. Ketika metode pengeboran meningkat dan menjadi lebih murah, cadangan yang tidak mungkin kemarin menjadi target produksi hari esok.
Mengapa Prediksi Sebelumnya Meleset
Peramal energi telah berulang kali meremehkan ketersediaan minyak. Sepanjang dekade, para ahli mengeluarkan peringatan tentang kekurangan yang akan datang, namun produksi terus meningkat dan estimasi cadangan tumbuh bersamanya. Pola ini terjadi karena baik teknologi maupun eksplorasi terus memperluas definisi tentang apa yang dianggap sebagai “dapat diambil kembali.”
Penemuan Utama yang Masih Membentuk Pandangan Pasokan
Meskipun ada prediksi penurunan, cadangan minyak yang signifikan terus muncul. Tahun lalu, Survei Geologi AS mengidentifikasi ladang besar yang belum dimanfaatkan di formasi batubara Wolfcamp di Texas, dengan perkiraan cadangan rata-rata 20 miliar barel. Untuk memberikan konteks temuan ini: ladang Prudhoe Bay yang bersejarah di Alaska, ladang minyak terbesar yang memproduksi di Amerika Utara, telah mengekstraksi sekitar 12 miliar barel selama 43 tahun. Ladang East Texas, ladang yang memproduksi terbesar di 48 negara bagian bagian bawah, telah menghasilkan sedikit lebih dari 7 miliar barel sejak tahun 1930-an.
Perlambatan Mengkhawatirkan dalam Eksplorasi Baru
Namun, meskipun penemuan ini, tren yang mengkhawatirkan sedang muncul. Data terbaru dari Badan Energi Internasional mengungkapkan bahwa investasi eksplorasi minyak konvensional turun ke tingkat terendah dalam lebih dari tujuh dekade. Tahun lalu, volume sumber daya yang dikembangkan turun menjadi 4,7 miliar barel—penurunan melebihi 30% dari tahun ke tahun.
Sektor lepas pantai, yang tetap penting untuk pasokan global di masa depan, menghadapi aktivitas investasi yang sangat lemah. Hanya 13% dari sumber daya konvensional yang disetujui untuk pengembangan pada tahun 2016 berasal dari proyek lepas pantai, dibandingkan dengan rata-rata 40% selama 15 tahun sebelumnya. Perubahan ini menjauh dari pengembangan lepas pantai menimbulkan pertanyaan tentang apakah perusahaan dapat secara memadai memperbaharui pasokan dalam jangka panjang.
Apa Artinya ke Depan
Narasi minyak telah bergeser dari cerita sederhana “habis” menjadi sesuatu yang lebih bernuansa. Kami memiliki cadangan yang belum dimanfaatkan yang sangat besar, namun iklim ekonomi dan investasi untuk menemukan dan mengembangkannya semakin memburuk. Apakah umat manusia menghadapi krisis sumber daya yang nyata atau krisis ekonomi tetap menjadi pertanyaan terbuka—satu yang akan sangat bergantung pada kemajuan teknologi dan keputusan investasi industri di tahun-tahun mendatang.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Teka-Teki Minyak Global: Mengapa Perkiraan Cadangan Terus Berubah
Selera dunia terhadap minyak tidak menunjukkan tanda-tanda melambat, namun memperkirakan berapa lama pasokan kita akan bertahan menjadi semakin rumit. Tantangannya bukan berasal dari kekurangan minyak itu sendiri, tetapi lebih kepada bagaimana kita mendefinisikan dan mengukur apa yang sebenarnya dapat diambil.
Masalah Pengukuran Cadangan
Ketika organisasi energi besar seperti BP memberikan estimasi cadangan, mereka biasanya mengandalkan “cadangan terbukti”—pada dasarnya, jumlah minyak yang diyakini perusahaan dapat diekstraksi dengan menguntungkan menggunakan teknologi saat ini. Pada tahun 2014, BP memperkirakan bahwa cadangan terbukti Bumi akan bertahan sekitar 53 tahun pada tingkat produksi saat itu, berdasarkan total 1,688 triliun barel. Namun, angka ini hanya menceritakan sebagian dari cerita.
Jumlah minyak sebenarnya yang berada di bawah permukaan Bumi jauh melebihi estimasi konservatif ini. Jarak ini ada karena cadangan yang terbukti tidak memperhitungkan minyak yang lebih sulit diakses atau memerlukan kemajuan teknologi untuk mengekstrak secara ekonomi. Ketika metode pengeboran meningkat dan menjadi lebih murah, cadangan yang tidak mungkin kemarin menjadi target produksi hari esok.
Mengapa Prediksi Sebelumnya Meleset
Peramal energi telah berulang kali meremehkan ketersediaan minyak. Sepanjang dekade, para ahli mengeluarkan peringatan tentang kekurangan yang akan datang, namun produksi terus meningkat dan estimasi cadangan tumbuh bersamanya. Pola ini terjadi karena baik teknologi maupun eksplorasi terus memperluas definisi tentang apa yang dianggap sebagai “dapat diambil kembali.”
Penemuan Utama yang Masih Membentuk Pandangan Pasokan
Meskipun ada prediksi penurunan, cadangan minyak yang signifikan terus muncul. Tahun lalu, Survei Geologi AS mengidentifikasi ladang besar yang belum dimanfaatkan di formasi batubara Wolfcamp di Texas, dengan perkiraan cadangan rata-rata 20 miliar barel. Untuk memberikan konteks temuan ini: ladang Prudhoe Bay yang bersejarah di Alaska, ladang minyak terbesar yang memproduksi di Amerika Utara, telah mengekstraksi sekitar 12 miliar barel selama 43 tahun. Ladang East Texas, ladang yang memproduksi terbesar di 48 negara bagian bagian bawah, telah menghasilkan sedikit lebih dari 7 miliar barel sejak tahun 1930-an.
Perlambatan Mengkhawatirkan dalam Eksplorasi Baru
Namun, meskipun penemuan ini, tren yang mengkhawatirkan sedang muncul. Data terbaru dari Badan Energi Internasional mengungkapkan bahwa investasi eksplorasi minyak konvensional turun ke tingkat terendah dalam lebih dari tujuh dekade. Tahun lalu, volume sumber daya yang dikembangkan turun menjadi 4,7 miliar barel—penurunan melebihi 30% dari tahun ke tahun.
Sektor lepas pantai, yang tetap penting untuk pasokan global di masa depan, menghadapi aktivitas investasi yang sangat lemah. Hanya 13% dari sumber daya konvensional yang disetujui untuk pengembangan pada tahun 2016 berasal dari proyek lepas pantai, dibandingkan dengan rata-rata 40% selama 15 tahun sebelumnya. Perubahan ini menjauh dari pengembangan lepas pantai menimbulkan pertanyaan tentang apakah perusahaan dapat secara memadai memperbaharui pasokan dalam jangka panjang.
Apa Artinya ke Depan
Narasi minyak telah bergeser dari cerita sederhana “habis” menjadi sesuatu yang lebih bernuansa. Kami memiliki cadangan yang belum dimanfaatkan yang sangat besar, namun iklim ekonomi dan investasi untuk menemukan dan mengembangkannya semakin memburuk. Apakah umat manusia menghadapi krisis sumber daya yang nyata atau krisis ekonomi tetap menjadi pertanyaan terbuka—satu yang akan sangat bergantung pada kemajuan teknologi dan keputusan investasi industri di tahun-tahun mendatang.