عندما نستعرض مسار أسعار الذهب خلال عام 2025, tampak jelas bahwa logam kuning mengalami lonjakan signifikan dalam pandangan investor. Gold tidak lagi sekadar komoditas tradisional, melainkan menjadi alat perlindungan strategis di tengah lingkungan ekonomi yang tidak stabil. Harga emas mencapai puncak sejarah sebesar 4300 dolar per ons di pertengahan Oktober 2025, sebelum mengalami koreksi alami menuju level sekitar 4000 dolar pada November, memicu diskusi hangat tentang peluang dan tantangan yang akan dihadapi logam mulia ini di tahun 2026.
Pergerakan cepat ini disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berpotongan: perlambatan pertumbuhan ekonomi global, pergeseran menuju kebijakan moneter yang lebih fleksibel, dan meningkatnya ketakutan terhadap krisis keuangan dan politik. Investor kembali menghitung ulang portofolio mereka dan mengalir ke aset safe haven, dengan emas berada di posisi terdepan.
Angka Mengungkapkan Permintaan Nyata
Permintaan global terhadap emas tidak lagi terbatas pada perhiasan dan industri tradisional. Pada kuartal kedua 2025, total permintaan mencapai 1249 ton, meningkat 3% secara tahunan, namun nilai sebenarnya dari cerita ini terletak pada kenaikan sebesar 45% dalam nilai total yang mencapai 132 miliar dolar. Kuartal pertama tahun yang sama mencatat permintaan sebesar 1206 ton, tertinggi sejak kuartal pertama tahun 2016.
Dana ETF emas memainkan peran kunci dalam skenario ini, menarik aliran dana besar yang meningkatkan aset yang dikelola menjadi 472 miliar dolar dengan kepemilikan mencapai 3838 ton, naik 6% secara kuartalan. Kepemilikan ini mendekati rekor tertinggi sebesar 3929 ton, menunjukkan bahwa investor individu maupun institusi tidak berniat meninggalkan emas dalam waktu dekat.
Secara geografis, Amerika Utara mendominasi permintaan dengan angka 345,7 ton, mewakili lebih dari separuh permintaan global sebesar 618,8 ton dari awal 2025 hingga September. Diikuti oleh Eropa dengan 148,4 ton dan Asia dengan 117,8 ton.
Pembelian Bank Sentral: Penggerak Utama
Yang membedakan pergerakan emas saat ini adalah keberlanjutan akumulasi cadangan oleh bank sentral secara agresif. Pada kuartal pertama 2025 saja, bank sentral menambah 244 ton, meningkat 24% dari rata-rata kuartal lima tahun terakhir. Data terbaru menunjukkan bahwa 44% bank sentral di seluruh dunia kini mengelola cadangan emas, naik dari 37% di tahun 2024.
China, Turki, dan India memimpin daftar pembeli, dengan Bank Rakyat China menambah lebih dari 65 ton, menandai bulan kedua puluh dua berturut-turut. Turki meningkatkan cadangannya hingga melebihi 600 ton. Persaingan ini mencerminkan keinginan yang semakin besar untuk diversifikasi cadangan dari dolar AS dan obligasi pemerintah.
Penawaran: Titik Lemah dalam Persamaan
Sementara permintaan meningkat, pasokan tetap relatif terbatas. Produksi tambang emas di kuartal pertama 2025 mencapai 856 ton, naik 1% secara tahunan. Kesenjangan antara permintaan dan pasokan semakin melebar karena penurunan emas daur ulang sebesar 1%, karena para pemilik emas lebih memilih menyimpannya dalam harapan kenaikan harga yang berkelanjutan.
Biaya produksi secara teratur meningkat, dengan rata-rata biaya penambangan global sekitar 1470 dolar per ons di pertengahan 2025, tertinggi dalam satu dekade. Ini berarti bahwa setiap ekspansi produksi akan mahal dan lambat, mendukung peluang untuk tekanan kenaikan harga yang berkelanjutan.
Kebijakan Moneter: Penggerak Utama
Federal Reserve AS menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75-4,00% di Oktober 2025, ini adalah penurunan kedua sejak Desember 2024. Isyarat dari data resmi menunjukkan kemungkinan penurunan lebih lanjut jika pasar tenaga kerja melemah atau pertumbuhan ekonomi melambat.
Ekspektasi trader di platform Vedootch memperhitungkan kemungkinan penurunan tambahan sebesar 25 basis poin dalam rapat Desember 2025, menjadikannya penurunan ketiga sejak awal tahun. Laporan BlackRock menyebutkan bahwa Federal Reserve mungkin menargetkan tingkat suku bunga hingga 3,4% menjelang akhir 2026 dalam skenario moderat.
Penurunan suku bunga ini mengurangi imbal hasil riil obligasi, sehingga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan bunga tetapi menawarkan perlindungan nyata.
Bank Sentral Eropa dan Asia Berjalan di Jalur Berbeda
Perbedaan kebijakan moneter utama memperdalam peran emas sebagai safe haven global. Sementara Federal Reserve AS menuju fleksibilitas, Bank Sentral Eropa tetap berhati-hati terhadap inflasi, dan Bank Jepang mempertahankan kebijakan pelonggaran. Variasi ini meningkatkan permintaan terhadap logam mulia sebagai instrumen lindung nilai di berbagai pasar.
Inflasi dan Utang: Risiko Berkelanjutan
Bank Dunia memperkirakan pada April 2025 bahwa harga emas akan meningkat sebesar 35% selama tahun 2025. Dana Moneter Internasional mengeluarkan alarm terkait utang publik global yang melebihi 100% dari PDB. Rumus ini mendorong investor bergegas ke emas sebagai perlindungan dari kehilangan daya beli.
42% dari hedge fund besar memperkuat posisi mereka di emas selama kuartal ketiga 2025, menurut data Bloomberg Economics, mencerminkan keyakinan yang semakin besar akan pentingnya logam kuning dalam portofolio investasi.
Ketegangan Geopolitik: Pemicu Tak Terduga
Konflik dagang antara AS dan China serta ketegangan di Timur Tengah meningkatkan permintaan emas sebesar 7% secara tahunan menurut Reuters. Ketika kekhawatiran tentang Selat Taiwan dan pasokan energi meningkat, harga emas melonjak ke atas 3400 dolar pada Juli 2025.
Krisis geopolitik secara historis mendorong emas ke level baru dengan cepat, dan setiap kejutan baru di 2026 bisa menjadi pendorong tambahan menuju level rekor.
Dolar dan Obligasi: Penurunan Ganda Dukung Kenaikan
Indeks dolar melemah sekitar 7,64% dari puncaknya awal 2025 hingga 21 November 2025. Imbal hasil obligasi AS 10 tahun turun dari 4,6% di kuartal pertama menjadi 4,07% di November. Penurunan bersamaan ini meningkatkan daya tarik emas bagi investor asing dan mengurangi peluang suku bunga alternatif.
Analis Bank of America memandang bahwa kelanjutan tren ini dengan stabilnya imbal hasil riil di sekitar 1,2% dapat mendukung perkiraan harga emas menuju level lebih tinggi di 2026 dan 2030.
Apa yang Diperkirakan Para Ahli untuk Emas di 2026?
Perkiraan bank investasi utama cenderung mendekati kisaran tertentu:
HSBC memperkirakan bahwa emas akan mencapai 5000 dolar di paruh pertama 2026 dengan rata-rata tahunan 4600 dolar, dibandingkan rata-rata 3455 dolar di 2025.
Bank of America menaikkan proyeksi ke 5000 dolar sebagai puncak potensial dengan rata-rata 4400 dolar, memperingatkan kemungkinan koreksi jangka pendek untuk pengambilan keuntungan.
Goldman Sachs menyesuaikan proyeksinya ke 4900 dolar dengan catatan arus masuk besar ke ETF emas dan ekspektasi pembelian berkelanjutan oleh bank sentral.
J.P. Morgan memperkirakan emas akan mencapai 5055 dolar pada pertengahan 2026.
Kisaran paling umum di antara para analis berkisar antara 4800 dan 5000 dolar sebagai level tertinggi, dengan rata-rata tahunan antara 4200 dan 4800 dolar.
Proyeksi Harga Emas di Timur Tengah
Wilayah ini menunjukkan aktivitas signifikan dari bank sentral. Bank Sentral Mesir menambah satu ton di kuartal pertama, dan Bank Sentral Qatar menambah 3 ton.
Perkiraan harga emas di Mesir menunjukkan kemungkinan mencapai 522.580 pound Mesir per ons di 2026, meningkat 158,46% dari harga saat ini.
Di Arab Saudi, jika kita konversi proyeksi 5000 dolar per ons ke riyal Saudi (dengan kurs 3,75-3,80), maka harga mendekati 18750 hingga 19000 riyal Saudi.
Di UAE, prediksi yang sama setara dengan sekitar 18375 hingga 19000 dirham UAE per ons.
Perkiraan ini mengasumsikan kestabilan nilai tukar dan permintaan global yang berkelanjutan tanpa gejolak ekonomi besar.
Koreksi Potensial: Skenario Realistis
Meskipun optimisme umum, bank-bank besar memperingatkan kemungkinan koreksi di paruh kedua 2026. HSBC memperkirakan penurunan potensial ke sekitar 4200 dolar jika investor melakukan pengambilan keuntungan, tetapi menganggap penurunan di bawah 3800 dolar sangat kecil kecuali terjadi kejutan ekonomi besar.
Goldman Sachs memperingatkan bahwa harga yang tetap di atas 4800 dolar bisa menjadi “pengujian kredibilitas harga” yang nyata untuk logam ini.
Namun J.P. Morgan dan Deutsche Bank menegaskan bahwa emas telah memasuki zona harga baru yang sulit ditembus ke bawah, berkat perubahan strategi pandangan investor terhadapnya sebagai aset investasi jangka panjang, bukan instrumen spekulasi jangka pendek.
Analisis Teknis: Gambaran Netral Saat Ini
Pada 21 November 2025, emas ditutup di 4065,01 dolar per ons, setelah menyentuh puncak 4381,44 dolar pada 20 Oktober. Grafik harian menunjukkan terobosannya garis tren naik, tetapi harga masih mempertahankan garis tren utama di sekitar 4050 dolar.
Level 4000 dolar menjadi support kuat, dan penembusan dengan penutupan harian yang jelas dapat membuka jalan menuju 3800 dolar (Fibonacci retracement 50%). Resistance pertama berada di 4200 dolar, diikuti oleh 4400 dan 4680 dolar.
Indeks kekuatan relatif (RSI) stabil di level 50, menunjukkan kondisi netral antara tekanan jual dan beli. Indikator MACD tetap di atas nol, mengonfirmasi keberlanjutan tren kenaikan jangka panjang.
Cara Memanfaatkan Pergerakan Emas
Ada beberapa cara untuk memanfaatkan pergerakan harga emas:
Pembelian fisik berupa batangan atau koin emas, metode klasik namun memerlukan ruang penyimpanan dan keamanan.
ETF emas (ETFs) menyediakan likuiditas tinggi dan kemudahan jual beli tanpa perlu penyimpanan fisik.
Saham perusahaan pertambangan memberikan eksposur terhadap emas dengan peluang mendapatkan keuntungan dan dividen.
Kontrak selisih harga (CFDs) memungkinkan spekulasi jangka pendek dengan leverage, tetapi berisiko tinggi dan memerlukan pemahaman mendalam tentang manajemen risiko.
Pandangan ke 2030
Sementara fokus utama adalah 2026, penting juga memperhatikan perkiraan harga emas 2030 yang bisa lebih menarik. Jika tekanan terhadap utang negara dan inflasi berlanjut, emas bisa mengalami permintaan berkelanjutan hingga 2030, terutama jika pemerintah gagal mengendalikan utang atau melakukan kebijakan tak terduga.
Kesimpulan
Harga emas di 2026 akan mencerminkan keseimbangan antara dua faktor utama: di satu sisi, bank sentral dan investor terus membeli emas, dan di sisi lain, gelembung harga di level 5000 dolar. Jika imbal hasil riil tetap menurun dan dolar tetap lemah, emas berpotensi mencatat rekor baru. Sebaliknya, jika inflasi mereda secara mendadak dan pasar keuangan kembali percaya, logam ini mungkin memasuki fase stabil tanpa mencapai target tertinggi.
Yang pasti, emas akan tetap menjadi pemain utama dalam portofolio investasi selama beberapa tahun ke depan, terutama dengan ketidakpastian yang terus berlangsung mengenai masa depan ekonomi dan geopolitik.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Emas mendekati puncak baru.. Apakah kita akan melihat level 5000 dolar dalam waktu dekat?
عندما نستعرض مسار أسعار الذهب خلال عام 2025, tampak jelas bahwa logam kuning mengalami lonjakan signifikan dalam pandangan investor. Gold tidak lagi sekadar komoditas tradisional, melainkan menjadi alat perlindungan strategis di tengah lingkungan ekonomi yang tidak stabil. Harga emas mencapai puncak sejarah sebesar 4300 dolar per ons di pertengahan Oktober 2025, sebelum mengalami koreksi alami menuju level sekitar 4000 dolar pada November, memicu diskusi hangat tentang peluang dan tantangan yang akan dihadapi logam mulia ini di tahun 2026.
Pergerakan cepat ini disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berpotongan: perlambatan pertumbuhan ekonomi global, pergeseran menuju kebijakan moneter yang lebih fleksibel, dan meningkatnya ketakutan terhadap krisis keuangan dan politik. Investor kembali menghitung ulang portofolio mereka dan mengalir ke aset safe haven, dengan emas berada di posisi terdepan.
Angka Mengungkapkan Permintaan Nyata
Permintaan global terhadap emas tidak lagi terbatas pada perhiasan dan industri tradisional. Pada kuartal kedua 2025, total permintaan mencapai 1249 ton, meningkat 3% secara tahunan, namun nilai sebenarnya dari cerita ini terletak pada kenaikan sebesar 45% dalam nilai total yang mencapai 132 miliar dolar. Kuartal pertama tahun yang sama mencatat permintaan sebesar 1206 ton, tertinggi sejak kuartal pertama tahun 2016.
Dana ETF emas memainkan peran kunci dalam skenario ini, menarik aliran dana besar yang meningkatkan aset yang dikelola menjadi 472 miliar dolar dengan kepemilikan mencapai 3838 ton, naik 6% secara kuartalan. Kepemilikan ini mendekati rekor tertinggi sebesar 3929 ton, menunjukkan bahwa investor individu maupun institusi tidak berniat meninggalkan emas dalam waktu dekat.
Secara geografis, Amerika Utara mendominasi permintaan dengan angka 345,7 ton, mewakili lebih dari separuh permintaan global sebesar 618,8 ton dari awal 2025 hingga September. Diikuti oleh Eropa dengan 148,4 ton dan Asia dengan 117,8 ton.
Pembelian Bank Sentral: Penggerak Utama
Yang membedakan pergerakan emas saat ini adalah keberlanjutan akumulasi cadangan oleh bank sentral secara agresif. Pada kuartal pertama 2025 saja, bank sentral menambah 244 ton, meningkat 24% dari rata-rata kuartal lima tahun terakhir. Data terbaru menunjukkan bahwa 44% bank sentral di seluruh dunia kini mengelola cadangan emas, naik dari 37% di tahun 2024.
China, Turki, dan India memimpin daftar pembeli, dengan Bank Rakyat China menambah lebih dari 65 ton, menandai bulan kedua puluh dua berturut-turut. Turki meningkatkan cadangannya hingga melebihi 600 ton. Persaingan ini mencerminkan keinginan yang semakin besar untuk diversifikasi cadangan dari dolar AS dan obligasi pemerintah.
Penawaran: Titik Lemah dalam Persamaan
Sementara permintaan meningkat, pasokan tetap relatif terbatas. Produksi tambang emas di kuartal pertama 2025 mencapai 856 ton, naik 1% secara tahunan. Kesenjangan antara permintaan dan pasokan semakin melebar karena penurunan emas daur ulang sebesar 1%, karena para pemilik emas lebih memilih menyimpannya dalam harapan kenaikan harga yang berkelanjutan.
Biaya produksi secara teratur meningkat, dengan rata-rata biaya penambangan global sekitar 1470 dolar per ons di pertengahan 2025, tertinggi dalam satu dekade. Ini berarti bahwa setiap ekspansi produksi akan mahal dan lambat, mendukung peluang untuk tekanan kenaikan harga yang berkelanjutan.
Kebijakan Moneter: Penggerak Utama
Federal Reserve AS menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75-4,00% di Oktober 2025, ini adalah penurunan kedua sejak Desember 2024. Isyarat dari data resmi menunjukkan kemungkinan penurunan lebih lanjut jika pasar tenaga kerja melemah atau pertumbuhan ekonomi melambat.
Ekspektasi trader di platform Vedootch memperhitungkan kemungkinan penurunan tambahan sebesar 25 basis poin dalam rapat Desember 2025, menjadikannya penurunan ketiga sejak awal tahun. Laporan BlackRock menyebutkan bahwa Federal Reserve mungkin menargetkan tingkat suku bunga hingga 3,4% menjelang akhir 2026 dalam skenario moderat.
Penurunan suku bunga ini mengurangi imbal hasil riil obligasi, sehingga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan bunga tetapi menawarkan perlindungan nyata.
Bank Sentral Eropa dan Asia Berjalan di Jalur Berbeda
Perbedaan kebijakan moneter utama memperdalam peran emas sebagai safe haven global. Sementara Federal Reserve AS menuju fleksibilitas, Bank Sentral Eropa tetap berhati-hati terhadap inflasi, dan Bank Jepang mempertahankan kebijakan pelonggaran. Variasi ini meningkatkan permintaan terhadap logam mulia sebagai instrumen lindung nilai di berbagai pasar.
Inflasi dan Utang: Risiko Berkelanjutan
Bank Dunia memperkirakan pada April 2025 bahwa harga emas akan meningkat sebesar 35% selama tahun 2025. Dana Moneter Internasional mengeluarkan alarm terkait utang publik global yang melebihi 100% dari PDB. Rumus ini mendorong investor bergegas ke emas sebagai perlindungan dari kehilangan daya beli.
42% dari hedge fund besar memperkuat posisi mereka di emas selama kuartal ketiga 2025, menurut data Bloomberg Economics, mencerminkan keyakinan yang semakin besar akan pentingnya logam kuning dalam portofolio investasi.
Ketegangan Geopolitik: Pemicu Tak Terduga
Konflik dagang antara AS dan China serta ketegangan di Timur Tengah meningkatkan permintaan emas sebesar 7% secara tahunan menurut Reuters. Ketika kekhawatiran tentang Selat Taiwan dan pasokan energi meningkat, harga emas melonjak ke atas 3400 dolar pada Juli 2025.
Krisis geopolitik secara historis mendorong emas ke level baru dengan cepat, dan setiap kejutan baru di 2026 bisa menjadi pendorong tambahan menuju level rekor.
Dolar dan Obligasi: Penurunan Ganda Dukung Kenaikan
Indeks dolar melemah sekitar 7,64% dari puncaknya awal 2025 hingga 21 November 2025. Imbal hasil obligasi AS 10 tahun turun dari 4,6% di kuartal pertama menjadi 4,07% di November. Penurunan bersamaan ini meningkatkan daya tarik emas bagi investor asing dan mengurangi peluang suku bunga alternatif.
Analis Bank of America memandang bahwa kelanjutan tren ini dengan stabilnya imbal hasil riil di sekitar 1,2% dapat mendukung perkiraan harga emas menuju level lebih tinggi di 2026 dan 2030.
Apa yang Diperkirakan Para Ahli untuk Emas di 2026?
Perkiraan bank investasi utama cenderung mendekati kisaran tertentu:
HSBC memperkirakan bahwa emas akan mencapai 5000 dolar di paruh pertama 2026 dengan rata-rata tahunan 4600 dolar, dibandingkan rata-rata 3455 dolar di 2025.
Bank of America menaikkan proyeksi ke 5000 dolar sebagai puncak potensial dengan rata-rata 4400 dolar, memperingatkan kemungkinan koreksi jangka pendek untuk pengambilan keuntungan.
Goldman Sachs menyesuaikan proyeksinya ke 4900 dolar dengan catatan arus masuk besar ke ETF emas dan ekspektasi pembelian berkelanjutan oleh bank sentral.
J.P. Morgan memperkirakan emas akan mencapai 5055 dolar pada pertengahan 2026.
Kisaran paling umum di antara para analis berkisar antara 4800 dan 5000 dolar sebagai level tertinggi, dengan rata-rata tahunan antara 4200 dan 4800 dolar.
Proyeksi Harga Emas di Timur Tengah
Wilayah ini menunjukkan aktivitas signifikan dari bank sentral. Bank Sentral Mesir menambah satu ton di kuartal pertama, dan Bank Sentral Qatar menambah 3 ton.
Perkiraan harga emas di Mesir menunjukkan kemungkinan mencapai 522.580 pound Mesir per ons di 2026, meningkat 158,46% dari harga saat ini.
Di Arab Saudi, jika kita konversi proyeksi 5000 dolar per ons ke riyal Saudi (dengan kurs 3,75-3,80), maka harga mendekati 18750 hingga 19000 riyal Saudi.
Di UAE, prediksi yang sama setara dengan sekitar 18375 hingga 19000 dirham UAE per ons.
Perkiraan ini mengasumsikan kestabilan nilai tukar dan permintaan global yang berkelanjutan tanpa gejolak ekonomi besar.
Koreksi Potensial: Skenario Realistis
Meskipun optimisme umum, bank-bank besar memperingatkan kemungkinan koreksi di paruh kedua 2026. HSBC memperkirakan penurunan potensial ke sekitar 4200 dolar jika investor melakukan pengambilan keuntungan, tetapi menganggap penurunan di bawah 3800 dolar sangat kecil kecuali terjadi kejutan ekonomi besar.
Goldman Sachs memperingatkan bahwa harga yang tetap di atas 4800 dolar bisa menjadi “pengujian kredibilitas harga” yang nyata untuk logam ini.
Namun J.P. Morgan dan Deutsche Bank menegaskan bahwa emas telah memasuki zona harga baru yang sulit ditembus ke bawah, berkat perubahan strategi pandangan investor terhadapnya sebagai aset investasi jangka panjang, bukan instrumen spekulasi jangka pendek.
Analisis Teknis: Gambaran Netral Saat Ini
Pada 21 November 2025, emas ditutup di 4065,01 dolar per ons, setelah menyentuh puncak 4381,44 dolar pada 20 Oktober. Grafik harian menunjukkan terobosannya garis tren naik, tetapi harga masih mempertahankan garis tren utama di sekitar 4050 dolar.
Level 4000 dolar menjadi support kuat, dan penembusan dengan penutupan harian yang jelas dapat membuka jalan menuju 3800 dolar (Fibonacci retracement 50%). Resistance pertama berada di 4200 dolar, diikuti oleh 4400 dan 4680 dolar.
Indeks kekuatan relatif (RSI) stabil di level 50, menunjukkan kondisi netral antara tekanan jual dan beli. Indikator MACD tetap di atas nol, mengonfirmasi keberlanjutan tren kenaikan jangka panjang.
Cara Memanfaatkan Pergerakan Emas
Ada beberapa cara untuk memanfaatkan pergerakan harga emas:
Pembelian fisik berupa batangan atau koin emas, metode klasik namun memerlukan ruang penyimpanan dan keamanan.
ETF emas (ETFs) menyediakan likuiditas tinggi dan kemudahan jual beli tanpa perlu penyimpanan fisik.
Saham perusahaan pertambangan memberikan eksposur terhadap emas dengan peluang mendapatkan keuntungan dan dividen.
Kontrak selisih harga (CFDs) memungkinkan spekulasi jangka pendek dengan leverage, tetapi berisiko tinggi dan memerlukan pemahaman mendalam tentang manajemen risiko.
Pandangan ke 2030
Sementara fokus utama adalah 2026, penting juga memperhatikan perkiraan harga emas 2030 yang bisa lebih menarik. Jika tekanan terhadap utang negara dan inflasi berlanjut, emas bisa mengalami permintaan berkelanjutan hingga 2030, terutama jika pemerintah gagal mengendalikan utang atau melakukan kebijakan tak terduga.
Kesimpulan
Harga emas di 2026 akan mencerminkan keseimbangan antara dua faktor utama: di satu sisi, bank sentral dan investor terus membeli emas, dan di sisi lain, gelembung harga di level 5000 dolar. Jika imbal hasil riil tetap menurun dan dolar tetap lemah, emas berpotensi mencatat rekor baru. Sebaliknya, jika inflasi mereda secara mendadak dan pasar keuangan kembali percaya, logam ini mungkin memasuki fase stabil tanpa mencapai target tertinggi.
Yang pasti, emas akan tetap menjadi pemain utama dalam portofolio investasi selama beberapa tahun ke depan, terutama dengan ketidakpastian yang terus berlangsung mengenai masa depan ekonomi dan geopolitik.