Yen Jepang tahun ini mengalami pergerakan seperti roller coaster, dari apresiasi di awal tahun, penurunan besar di pertengahan tahun, hingga mencapai titik terendah di akhir tahun. USD terhadap Yen Jepang menembus 157 dan menciptakan level terendah baru dalam enam bulan. Apa sebenarnya yang tercermin di balik penurunan ini? Apakah memang akan terus berlanjut di masa depan?
Mengapa Penurunan Yen Jepang Begitu Tajam? Mengungkap Tiga Faktor Kunci
Kebijakan Bank Sentral yang Bertentangan
Bank of Japan dan Federal Reserve mengambil jalur yang berbeda. Pada Januari 2025, BOJ akan menaikkan suku bunga acuan dari 0.25% menjadi 0.5%, mencatat kenaikan terbesar sejak 2007. Namun, sebaliknya, Federal Reserve mulai mempertimbangkan penurunan suku bunga, yang memperbesar selisih suku bunga ini langsung mendorong nilai dolar AS naik. Ketika biaya pinjaman di Jepang meningkat dan di AS menurun, dana secara alami mengalir ke AS, sehingga Yen terus dijual.
Kekhawatiran Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiskal agresif yang dijalankan Perdana Menteri Fumio Kishida menarik perhatian, tetapi pasar mulai meragukan keberlanjutan fiskal jangka panjang Jepang. Rasa tidak aman ini membuat investor cenderung menghindari aset Yen dan beralih ke dolar AS yang dianggap lebih “aman”.
Dampak Terbalik dari Perdagangan Selisih Suku Bunga
Jepang mempertahankan suku bunga rendah dalam jangka panjang, menarik banyak perdagangan arbitrase. Namun, seiring munculnya sinyal kenaikan suku bunga, perdagangan ini mulai berbalik—pemilik Yen berusaha menutup posisi, menimbulkan tekanan jual besar-besaran, yang semakin memperburuk penurunan Yen.
Analisis Teknikal Penurunan Yen: Dari 160 ke 140 dalam Kejatuhan Drastis
Pada awal tahun 2025, USD terhadap Yen masih sekitar 160. Hingga 21 April, kurs sudah turun ke 140.477, level terendah dalam tahun ini. Dalam tiga bulan, Yen menguat lebih dari 12%, pergerakan cepat ini benar-benar mencengangkan.
Namun, tren berikutnya justru mengejutkan. Pada Mei hingga Juni, Yen sempat menguat sebentar, lalu kembali melemah. Memasuki Oktober, USD terhadap Yen menembus 150, dan pada November bahkan menembus 157. Apa artinya ini? Menunjukkan bahwa kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi Jepang mulai goyah.
Menteri Keuangan Jepang mengeluarkan “peringatan paling keras”, menunjukkan bahwa pasar sudah menunjukkan gejala pergerakan satu arah dan cepat, yang merupakan sinyal intervensi paling kuat sejak September 2022. Pasar mulai mengantisipasi kemungkinan intervensi langsung dari pemerintah Jepang di pasar valuta asing.
Titik Balik Kunci: Apakah 2026 Akan Benar-Benar Menghentikan Penurunan?
Sikap Bank of Japan adalah faktor penentu
Agar Yen benar-benar berbalik arah, BOJ harus mengeluarkan sinyal kenaikan suku bunga yang jelas. Saat ini, suku bunga acuan sudah naik ke 0.5%, tetapi masih rendah dibandingkan negara maju lainnya. Jika rapat bank sentral Desember mampu menetapkan jalur kenaikan suku bunga yang lebih agresif, nilai tukar sangat mungkin mengalami penurunan tajam. Secara teknikal, titik risiko bisa dipasang di 156.70; jika menembus level ini, target berikutnya bisa menuju 150 bahkan lebih rendah.
Penurunan suku bunga oleh Federal Reserve akan menguatkan Yen
Seiring tanda-tanda perlambatan ekonomi AS semakin jelas, ekspektasi penurunan suku bunga kembali meningkat. Ini adalah kabar baik untuk Yen—nilai dolar melemah, Yen menguat relatif terhadap dolar.
Bagaimana pandangan institusi terhadap prospek Yen 2026?
Morgan Stanley dalam riset terbarunya menyatakan bahwa jika Federal Reserve melakukan penurunan suku bunga secara berkelanjutan, Yen terhadap dolar AS berpotensi menguat hampir 10% dalam beberapa bulan ke depan. Bank ini berpendapat bahwa nilai tukar dolar terhadap Yen sudah menyimpang dari nilai wajar, dan seiring penurunan imbal hasil obligasi AS, penyimpangan ini diperkirakan akan diperbaiki pada kuartal pertama 2026. Berdasarkan analisis ini, Morgan Stanley memperkirakan USD/JPY akan turun ke sekitar 140 yen di awal tahun depan.
Namun, laporan ini juga mengingatkan bahwa jika ekonomi AS mulai pulih di akhir tahun depan, dan mendorong permintaan perdagangan arbitrase baru, Yen bisa kembali tertekan. Secara teknikal, USD/JPY masih memiliki ruang untuk naik, tetapi tren utama sudah berbalik.
Tinjauan Kebijakan Bank of Japan: Dari Longgar ke Ketat
Untuk memahami penyebab utama penurunan Yen saat ini, perlu meninjau evolusi kebijakan BOJ dalam beberapa tahun terakhir:
19 Maret 2024 — Mengakhiri Era Suku Bunga Negatif
BOJ memutuskan mengakhiri kebijakan suku bunga negatif -0.1% dan menaikkan suku bunga ke kisaran 0-0.1%. Ini adalah kenaikan pertama sejak 2007, menandai berakhirnya era kebijakan ultra-longgar. Namun, pasar saat itu tidak merespons positif, dan Yen malah terus melemah karena selisih suku bunga Jepang dan AS melebar.
31 Juli 2024 — Kenaikan Suku Bunga 15 Basis Poin yang Melebihi Ekspektasi
BOJ mengumumkan kenaikan suku bunga 15 basis poin (melampaui ekspektasi pasar 10 basis poin), menjadi 0.25%. Keputusan ini memicu penutupan besar-besaran posisi arbitrase Yen, menyebabkan gejolak besar di pasar keuangan global, dan indeks saham Nikkei turun 12.4% pada 5 Agustus. Setelah penurunan singkat, Yen sempat menguat selama 4 hari berturut-turut.
20 September 2024 — Menunda Kenaikan Suku Bunga
BOJ memutuskan mempertahankan suku bunga di 0.25%. Selama empat bulan berikutnya, bank tetap tidak mengubah kebijakan, sementara USD terhadap Yen naik dari sekitar 150 ke menembus 157.
24 Januari 2025 — Kenaikan Suku Bunga 50 Basis Poin yang Signifikan
Ini adalah keputusan paling berpengaruh. BOJ menaikkan suku bunga dari 0.25% menjadi 0.5%, mencatat kenaikan terbesar sejak 2007. Keputusan ini didorong oleh dua faktor utama: CPI inti naik 3.2% YoY yang melebihi ekspektasi, dan kesepakatan kenaikan gaji 2.7% dalam negosiasi buruh-musim gugur 2024. Setelah kenaikan, imbal hasil obligasi 10 tahun melonjak ke 1.235%, dan Yen sempat menguat, dari sekitar 158 di awal tahun menjadi 150-an, bahkan menyentuh 140.876 pada April.
Februari hingga Oktober 2025 — Masa Kebuntuan Kebijakan
Dalam enam rapat bank sentral ini, suku bunga tidak diubah dan tetap di 0.5%. Sementara itu, Yen terus melemah, dan USD/JPY kembali menembus 150. Gubernur BOJ Ueda Kazuo menyatakan di parlemen bahwa risiko pelemahan Yen yang mendorong biaya impor harus diwaspadai, yang diartikan sebagai sinyal kenaikan suku bunga.
Empat Indikator Utama untuk Mengamati Nilai Tukar Yen
Ingin memprediksi arah Yen di masa depan? Investor dapat memperhatikan empat indikator berikut:
1. Tingkat Inflasi (CPI) — Titik Pemicu Kenaikan Suku Bunga
Saat ini, inflasi Jepang relatif lebih rendah dibandingkan global, tetapi jika inflasi terus meningkat, BOJ akan dipaksa menaikkan suku bunga untuk mengendalikan harga, yang akan menguntungkan Yen. Sebaliknya, jika inflasi melambat, ekspektasi pelonggaran akan muncul, dan Yen akan tertekan dalam jangka pendek.
2. Data Pertumbuhan Ekonomi — GDP dan PMI yang Paling Penting
Pertumbuhan GDP dan indeks PMI yang kuat menunjukkan bahwa BOJ memiliki ruang untuk melakukan pengetatan kebijakan, yang mendukung Yen. Jika pertumbuhan melambat, BOJ cenderung melonggarkan lagi, yang tidak menguntungkan Yen. Saat ini, ekonomi Jepang relatif stabil di antara negara G7.
3. Pernyataan Bank Sentral — Ueda Kazuo sebagai Fokus Pasar
Setiap kata Gubernur BOJ bisa diartikan secara berlebihan. Isyarat kenaikan suku bunga akan langsung menguatkan Yen, sementara ekspektasi pelonggaran akan sebaliknya.
4. Lingkungan Internasional — Kebijakan Federal Reserve sebagai Variabel Penentu
Karena nilai tukar bersifat relatif, kebijakan bank sentral negara lain juga mempengaruhi Yen. Jika Fed menurunkan suku bunga, Yen secara alami menguat; jika Fed tetap mempertahankan suku bunga tinggi, ruang penguatan Yen terbatas. Selain itu, Yen juga memiliki sifat safe haven—ketika terjadi peristiwa risiko global, investor cenderung membeli Yen untuk menghindar.
Sejarah Lemahnya Yen dalam Sepuluh Tahun Terakhir
Untuk memahami logika mendalam dari penurunan Yen saat ini, mari tinjau beberapa titik balik penting dalam dekade terakhir:
2011 Gempa Bumi dan Krisis Nuklir — Tekanan Depresiasi Awal
Gempa besar dan ledakan Fukushima menyebabkan kerugian ekonomi besar. Jepang terpaksa membeli lebih banyak dolar untuk membeli minyak, dan kekhawatiran radiasi mengurangi wisata dan ekspor hasil pertanian, mengurangi pendapatan devisa, sehingga Yen mulai melemah.
2012-2013 Ekonomi Abenomics — Pelonggaran Besar-besaran
Setelah Shinzo Abe menjabat, ia meluncurkan “Abenomics”, dan BOJ mengumumkan program pembelian aset besar-besaran. Kuroda Haruhiko berjanji menyuntikkan likuiditas setara 1.4 triliun dolar dalam dua tahun. Hasilnya, pasar saham naik, tetapi Yen melemah hampir 30% dalam dua tahun.
2021 Awal Pengurangan Stimulus Fed — Era Selisih Suku Bunga Baru
Setelah Fed mengisyaratkan akan mengurangi stimulus, biaya pinjaman Jepang tetap rendah, menarik perdagangan selisih suku bunga. Investor meminjam Yen dan membeli aset lain untuk mendapatkan keuntungan dari selisih, yang menyebabkan tekanan besar terhadap Yen saat ekonomi global membaik.
2023 Ekspektasi Perubahan Kebijakan — Mengakhiri Era Pelonggaran
Gubernur baru BOJ Ueda Kazuo memberi sinyal perubahan kebijakan, dan inflasi naik di atas 3.3%, pasar mulai mengantisipasi siklus pengetatan.
2024 Hingga Sekarang — Penyesuaian Kebijakan dan Volatilitas Kurs
Dalam konteks pelonggaran global, BOJ memutuskan penyesuaian tegas, menaikkan suku bunga beberapa kali dari 0.25% ke 0.5%, menyebabkan volatilitas besar Yen. Namun, karena penyesuaian dilakukan secara perlahan, Yen malah mencapai level terendah baru.
Kesimpulan: Apakah Saatnya Membeli Yen Sekarang?
Secara keseluruhan, meskipun dalam jangka pendek Yen menghadapi tekanan dari selisih suku bunga dan kebijakan bank sentral yang tertinggal, dalam jangka panjang Yen akan kembali ke level yang seharusnya dan mengakhiri tren penurunan berkelanjutan.
Saran untuk Investor Umum:
Bagi yang berencana berwisata atau berbelanja di Jepang, disarankan membeli Yen secara bertahap sesuai kebutuhan di masa depan, jangan menukarkan seluruh dana sekaligus.
Jika ingin meraih keuntungan dari penurunan Yen di pasar valuta asing, lakukan penilaian risiko secara hati-hati, gunakan analisis di atas sebagai panduan, dan konsultasikan dengan profesional jika perlu. Pastikan pengelolaan risiko agar terhindar dari kerugian akibat volatilitas pasar.
Pasar saat ini mulai menyusun konsensus bahwa Yen mungkin sudah oversold. Dengan intervensi bank sentral, perubahan sikap hawkish BOJ, dan pelemahan dolar AS, pola penguatan Yen dalam jangka menengah tampaknya mulai terbentuk, dan peluang pembalikan di 2026 tidak bisa diabaikan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Apakah penurunan Yen Jepang telah mencapai titik terendah? Di mana peluang pembalikan nilai tukar pada tahun 2026
Yen Jepang tahun ini mengalami pergerakan seperti roller coaster, dari apresiasi di awal tahun, penurunan besar di pertengahan tahun, hingga mencapai titik terendah di akhir tahun. USD terhadap Yen Jepang menembus 157 dan menciptakan level terendah baru dalam enam bulan. Apa sebenarnya yang tercermin di balik penurunan ini? Apakah memang akan terus berlanjut di masa depan?
Mengapa Penurunan Yen Jepang Begitu Tajam? Mengungkap Tiga Faktor Kunci
Kebijakan Bank Sentral yang Bertentangan
Bank of Japan dan Federal Reserve mengambil jalur yang berbeda. Pada Januari 2025, BOJ akan menaikkan suku bunga acuan dari 0.25% menjadi 0.5%, mencatat kenaikan terbesar sejak 2007. Namun, sebaliknya, Federal Reserve mulai mempertimbangkan penurunan suku bunga, yang memperbesar selisih suku bunga ini langsung mendorong nilai dolar AS naik. Ketika biaya pinjaman di Jepang meningkat dan di AS menurun, dana secara alami mengalir ke AS, sehingga Yen terus dijual.
Kekhawatiran Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiskal agresif yang dijalankan Perdana Menteri Fumio Kishida menarik perhatian, tetapi pasar mulai meragukan keberlanjutan fiskal jangka panjang Jepang. Rasa tidak aman ini membuat investor cenderung menghindari aset Yen dan beralih ke dolar AS yang dianggap lebih “aman”.
Dampak Terbalik dari Perdagangan Selisih Suku Bunga
Jepang mempertahankan suku bunga rendah dalam jangka panjang, menarik banyak perdagangan arbitrase. Namun, seiring munculnya sinyal kenaikan suku bunga, perdagangan ini mulai berbalik—pemilik Yen berusaha menutup posisi, menimbulkan tekanan jual besar-besaran, yang semakin memperburuk penurunan Yen.
Analisis Teknikal Penurunan Yen: Dari 160 ke 140 dalam Kejatuhan Drastis
Pada awal tahun 2025, USD terhadap Yen masih sekitar 160. Hingga 21 April, kurs sudah turun ke 140.477, level terendah dalam tahun ini. Dalam tiga bulan, Yen menguat lebih dari 12%, pergerakan cepat ini benar-benar mencengangkan.
Namun, tren berikutnya justru mengejutkan. Pada Mei hingga Juni, Yen sempat menguat sebentar, lalu kembali melemah. Memasuki Oktober, USD terhadap Yen menembus 150, dan pada November bahkan menembus 157. Apa artinya ini? Menunjukkan bahwa kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi Jepang mulai goyah.
Menteri Keuangan Jepang mengeluarkan “peringatan paling keras”, menunjukkan bahwa pasar sudah menunjukkan gejala pergerakan satu arah dan cepat, yang merupakan sinyal intervensi paling kuat sejak September 2022. Pasar mulai mengantisipasi kemungkinan intervensi langsung dari pemerintah Jepang di pasar valuta asing.
Titik Balik Kunci: Apakah 2026 Akan Benar-Benar Menghentikan Penurunan?
Sikap Bank of Japan adalah faktor penentu
Agar Yen benar-benar berbalik arah, BOJ harus mengeluarkan sinyal kenaikan suku bunga yang jelas. Saat ini, suku bunga acuan sudah naik ke 0.5%, tetapi masih rendah dibandingkan negara maju lainnya. Jika rapat bank sentral Desember mampu menetapkan jalur kenaikan suku bunga yang lebih agresif, nilai tukar sangat mungkin mengalami penurunan tajam. Secara teknikal, titik risiko bisa dipasang di 156.70; jika menembus level ini, target berikutnya bisa menuju 150 bahkan lebih rendah.
Penurunan suku bunga oleh Federal Reserve akan menguatkan Yen
Seiring tanda-tanda perlambatan ekonomi AS semakin jelas, ekspektasi penurunan suku bunga kembali meningkat. Ini adalah kabar baik untuk Yen—nilai dolar melemah, Yen menguat relatif terhadap dolar.
Bagaimana pandangan institusi terhadap prospek Yen 2026?
Morgan Stanley dalam riset terbarunya menyatakan bahwa jika Federal Reserve melakukan penurunan suku bunga secara berkelanjutan, Yen terhadap dolar AS berpotensi menguat hampir 10% dalam beberapa bulan ke depan. Bank ini berpendapat bahwa nilai tukar dolar terhadap Yen sudah menyimpang dari nilai wajar, dan seiring penurunan imbal hasil obligasi AS, penyimpangan ini diperkirakan akan diperbaiki pada kuartal pertama 2026. Berdasarkan analisis ini, Morgan Stanley memperkirakan USD/JPY akan turun ke sekitar 140 yen di awal tahun depan.
Namun, laporan ini juga mengingatkan bahwa jika ekonomi AS mulai pulih di akhir tahun depan, dan mendorong permintaan perdagangan arbitrase baru, Yen bisa kembali tertekan. Secara teknikal, USD/JPY masih memiliki ruang untuk naik, tetapi tren utama sudah berbalik.
Tinjauan Kebijakan Bank of Japan: Dari Longgar ke Ketat
Untuk memahami penyebab utama penurunan Yen saat ini, perlu meninjau evolusi kebijakan BOJ dalam beberapa tahun terakhir:
19 Maret 2024 — Mengakhiri Era Suku Bunga Negatif
BOJ memutuskan mengakhiri kebijakan suku bunga negatif -0.1% dan menaikkan suku bunga ke kisaran 0-0.1%. Ini adalah kenaikan pertama sejak 2007, menandai berakhirnya era kebijakan ultra-longgar. Namun, pasar saat itu tidak merespons positif, dan Yen malah terus melemah karena selisih suku bunga Jepang dan AS melebar.
31 Juli 2024 — Kenaikan Suku Bunga 15 Basis Poin yang Melebihi Ekspektasi
BOJ mengumumkan kenaikan suku bunga 15 basis poin (melampaui ekspektasi pasar 10 basis poin), menjadi 0.25%. Keputusan ini memicu penutupan besar-besaran posisi arbitrase Yen, menyebabkan gejolak besar di pasar keuangan global, dan indeks saham Nikkei turun 12.4% pada 5 Agustus. Setelah penurunan singkat, Yen sempat menguat selama 4 hari berturut-turut.
20 September 2024 — Menunda Kenaikan Suku Bunga
BOJ memutuskan mempertahankan suku bunga di 0.25%. Selama empat bulan berikutnya, bank tetap tidak mengubah kebijakan, sementara USD terhadap Yen naik dari sekitar 150 ke menembus 157.
24 Januari 2025 — Kenaikan Suku Bunga 50 Basis Poin yang Signifikan
Ini adalah keputusan paling berpengaruh. BOJ menaikkan suku bunga dari 0.25% menjadi 0.5%, mencatat kenaikan terbesar sejak 2007. Keputusan ini didorong oleh dua faktor utama: CPI inti naik 3.2% YoY yang melebihi ekspektasi, dan kesepakatan kenaikan gaji 2.7% dalam negosiasi buruh-musim gugur 2024. Setelah kenaikan, imbal hasil obligasi 10 tahun melonjak ke 1.235%, dan Yen sempat menguat, dari sekitar 158 di awal tahun menjadi 150-an, bahkan menyentuh 140.876 pada April.
Februari hingga Oktober 2025 — Masa Kebuntuan Kebijakan
Dalam enam rapat bank sentral ini, suku bunga tidak diubah dan tetap di 0.5%. Sementara itu, Yen terus melemah, dan USD/JPY kembali menembus 150. Gubernur BOJ Ueda Kazuo menyatakan di parlemen bahwa risiko pelemahan Yen yang mendorong biaya impor harus diwaspadai, yang diartikan sebagai sinyal kenaikan suku bunga.
Empat Indikator Utama untuk Mengamati Nilai Tukar Yen
Ingin memprediksi arah Yen di masa depan? Investor dapat memperhatikan empat indikator berikut:
1. Tingkat Inflasi (CPI) — Titik Pemicu Kenaikan Suku Bunga
Saat ini, inflasi Jepang relatif lebih rendah dibandingkan global, tetapi jika inflasi terus meningkat, BOJ akan dipaksa menaikkan suku bunga untuk mengendalikan harga, yang akan menguntungkan Yen. Sebaliknya, jika inflasi melambat, ekspektasi pelonggaran akan muncul, dan Yen akan tertekan dalam jangka pendek.
2. Data Pertumbuhan Ekonomi — GDP dan PMI yang Paling Penting
Pertumbuhan GDP dan indeks PMI yang kuat menunjukkan bahwa BOJ memiliki ruang untuk melakukan pengetatan kebijakan, yang mendukung Yen. Jika pertumbuhan melambat, BOJ cenderung melonggarkan lagi, yang tidak menguntungkan Yen. Saat ini, ekonomi Jepang relatif stabil di antara negara G7.
3. Pernyataan Bank Sentral — Ueda Kazuo sebagai Fokus Pasar
Setiap kata Gubernur BOJ bisa diartikan secara berlebihan. Isyarat kenaikan suku bunga akan langsung menguatkan Yen, sementara ekspektasi pelonggaran akan sebaliknya.
4. Lingkungan Internasional — Kebijakan Federal Reserve sebagai Variabel Penentu
Karena nilai tukar bersifat relatif, kebijakan bank sentral negara lain juga mempengaruhi Yen. Jika Fed menurunkan suku bunga, Yen secara alami menguat; jika Fed tetap mempertahankan suku bunga tinggi, ruang penguatan Yen terbatas. Selain itu, Yen juga memiliki sifat safe haven—ketika terjadi peristiwa risiko global, investor cenderung membeli Yen untuk menghindar.
Sejarah Lemahnya Yen dalam Sepuluh Tahun Terakhir
Untuk memahami logika mendalam dari penurunan Yen saat ini, mari tinjau beberapa titik balik penting dalam dekade terakhir:
2011 Gempa Bumi dan Krisis Nuklir — Tekanan Depresiasi Awal
Gempa besar dan ledakan Fukushima menyebabkan kerugian ekonomi besar. Jepang terpaksa membeli lebih banyak dolar untuk membeli minyak, dan kekhawatiran radiasi mengurangi wisata dan ekspor hasil pertanian, mengurangi pendapatan devisa, sehingga Yen mulai melemah.
2012-2013 Ekonomi Abenomics — Pelonggaran Besar-besaran
Setelah Shinzo Abe menjabat, ia meluncurkan “Abenomics”, dan BOJ mengumumkan program pembelian aset besar-besaran. Kuroda Haruhiko berjanji menyuntikkan likuiditas setara 1.4 triliun dolar dalam dua tahun. Hasilnya, pasar saham naik, tetapi Yen melemah hampir 30% dalam dua tahun.
2021 Awal Pengurangan Stimulus Fed — Era Selisih Suku Bunga Baru
Setelah Fed mengisyaratkan akan mengurangi stimulus, biaya pinjaman Jepang tetap rendah, menarik perdagangan selisih suku bunga. Investor meminjam Yen dan membeli aset lain untuk mendapatkan keuntungan dari selisih, yang menyebabkan tekanan besar terhadap Yen saat ekonomi global membaik.
2023 Ekspektasi Perubahan Kebijakan — Mengakhiri Era Pelonggaran
Gubernur baru BOJ Ueda Kazuo memberi sinyal perubahan kebijakan, dan inflasi naik di atas 3.3%, pasar mulai mengantisipasi siklus pengetatan.
2024 Hingga Sekarang — Penyesuaian Kebijakan dan Volatilitas Kurs
Dalam konteks pelonggaran global, BOJ memutuskan penyesuaian tegas, menaikkan suku bunga beberapa kali dari 0.25% ke 0.5%, menyebabkan volatilitas besar Yen. Namun, karena penyesuaian dilakukan secara perlahan, Yen malah mencapai level terendah baru.
Kesimpulan: Apakah Saatnya Membeli Yen Sekarang?
Secara keseluruhan, meskipun dalam jangka pendek Yen menghadapi tekanan dari selisih suku bunga dan kebijakan bank sentral yang tertinggal, dalam jangka panjang Yen akan kembali ke level yang seharusnya dan mengakhiri tren penurunan berkelanjutan.
Saran untuk Investor Umum:
Bagi yang berencana berwisata atau berbelanja di Jepang, disarankan membeli Yen secara bertahap sesuai kebutuhan di masa depan, jangan menukarkan seluruh dana sekaligus.
Jika ingin meraih keuntungan dari penurunan Yen di pasar valuta asing, lakukan penilaian risiko secara hati-hati, gunakan analisis di atas sebagai panduan, dan konsultasikan dengan profesional jika perlu. Pastikan pengelolaan risiko agar terhindar dari kerugian akibat volatilitas pasar.
Pasar saat ini mulai menyusun konsensus bahwa Yen mungkin sudah oversold. Dengan intervensi bank sentral, perubahan sikap hawkish BOJ, dan pelemahan dolar AS, pola penguatan Yen dalam jangka menengah tampaknya mulai terbentuk, dan peluang pembalikan di 2026 tidak bisa diabaikan.