Mengapa dalam keluarga di Tiongkok, banyak anak yang meremehkan ayah mereka, tetapi jarang yang meremehkan ibu mereka? Hari ini saya melihat sebuah jawaban, dia mengatakan karena ayah sering berkata kepada anak-anak, nanti besar harus berbakti kepada ibumu, dia yang dengan susah payah membesarkanmu. Tapi apa yang dikatakan ibu? Dia paling sering berkata, nanti besar jangan sampai mencari pasangan yang tidak berguna seperti ayahmu. Jadi, ayah yang berjuang keras pun tidak terlihat, tetapi kekurangan ayah akan diperbesar tanpa batas, karena ibu akan tanpa ragu, bahkan seakan-akan salah dari langit, menceritakan kekurangan ayah kepada anak-anak, bahkan saat anak berbuat salah, saat memarahi mereka, dia juga akan menyertakan ayah. Dia akan berkata, itu urusan keluarga kalian. Sebenarnya ayah seperti rumah, ibu seperti selimut, tetapi kebanyakan orang hanya mengingat kehangatan selimut, lupa bahwa rumah yang melindungi dari angin dan hujan.
Namun alasan mendalamnya adalah: dalam banyak keluarga Tiongkok, ayah ditempatkan pada posisi "hanya bertanggung jawab atas hasil, tidak diizinkan gagal, dan tidak diizinkan menunjukkan kelemahan". Usahanya dianggap biasa, diubah menjadi alat, hanya dinilai saat "hasil memenuhi standar", sementara tekanan, keraguan, dan pengorbanan selama proses tidak ditampilkan maupun diterima. Karena dia tidak bisa menunjukkan kelemahan, tidak bisa menjelaskan, tidak bisa gagal, usahanya kehilangan jalan untuk dilihat, hanya tersisa hasil yang dingin dan keras. Ketika hasilnya masih baik, semuanya dianggap wajar; begitu hasilnya tidak memuaskan, dia dengan cepat jatuh ke dalam penilaian "tidak berguna". Anak-anak tidak bermaksud meremehkan ayah, tetapi dalam narasi keluarga jangka panjang, mereka hanya melihat sosok ayah yang entah memenuhi syarat atau gagal, tetapi tidak pernah diizinkan menjadi "orang yang konkret".
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Mengapa dalam keluarga di Tiongkok, banyak anak yang meremehkan ayah mereka, tetapi jarang yang meremehkan ibu mereka? Hari ini saya melihat sebuah jawaban, dia mengatakan karena ayah sering berkata kepada anak-anak, nanti besar harus berbakti kepada ibumu, dia yang dengan susah payah membesarkanmu. Tapi apa yang dikatakan ibu? Dia paling sering berkata, nanti besar jangan sampai mencari pasangan yang tidak berguna seperti ayahmu. Jadi, ayah yang berjuang keras pun tidak terlihat, tetapi kekurangan ayah akan diperbesar tanpa batas, karena ibu akan tanpa ragu, bahkan seakan-akan salah dari langit, menceritakan kekurangan ayah kepada anak-anak, bahkan saat anak berbuat salah, saat memarahi mereka, dia juga akan menyertakan ayah. Dia akan berkata, itu urusan keluarga kalian. Sebenarnya ayah seperti rumah, ibu seperti selimut, tetapi kebanyakan orang hanya mengingat kehangatan selimut, lupa bahwa rumah yang melindungi dari angin dan hujan.
Namun alasan mendalamnya adalah: dalam banyak keluarga Tiongkok, ayah ditempatkan pada posisi "hanya bertanggung jawab atas hasil, tidak diizinkan gagal, dan tidak diizinkan menunjukkan kelemahan". Usahanya dianggap biasa, diubah menjadi alat, hanya dinilai saat "hasil memenuhi standar", sementara tekanan, keraguan, dan pengorbanan selama proses tidak ditampilkan maupun diterima. Karena dia tidak bisa menunjukkan kelemahan, tidak bisa menjelaskan, tidak bisa gagal, usahanya kehilangan jalan untuk dilihat, hanya tersisa hasil yang dingin dan keras. Ketika hasilnya masih baik, semuanya dianggap wajar; begitu hasilnya tidak memuaskan, dia dengan cepat jatuh ke dalam penilaian "tidak berguna". Anak-anak tidak bermaksud meremehkan ayah, tetapi dalam narasi keluarga jangka panjang, mereka hanya melihat sosok ayah yang entah memenuhi syarat atau gagal, tetapi tidak pernah diizinkan menjadi "orang yang konkret".