Berikut beberapa pengalaman yang ingin saya bagikan
1. Aset tunggal mudah menjadi sasaran. Saya belajar membagi dana ke berbagai bidang seperti saham, forex, komoditas, dan lain-lain, dengan tujuan agar kerugian tidak melebihi 5% dari total dana, untuk mengurangi dampak badai pasar.
2. Emosi adalah musuh utama dalam trading. Dulu saya sering bertindak berdasarkan intuisi, sekarang saya mengandalkan indikator kuantitatif seperti moving average dan indeks volatilitas, serta alat analisis AI, untuk memastikan setiap transaksi didukung data.
3. Ketakutan dan keserakahan adalah pedang bermata dua. Saya melakukan meditasi harian dan mencatat jurnal trading untuk memantau fluktuasi emosi, serta membangun kebiasaan “berhenti sesuai rencana”, agar terhindar dari jebakan mengejar kenaikan dan menjual saat jatuh.
4. Kerugian besar terjadi karena tidak memiliki stop loss. Sekarang saya menetapkan stop loss dinamis berdasarkan fluktuasi pasar, dan menegakkan aturan take profit secara ketat, agar keuntungan terkunci dan tidak menguap.
5. Trading tidak hanya melihat grafik. Saya memperhatikan peristiwa global seperti kebijakan Federal Reserve dan konflik geopolitik, menggunakan kalender ekonomi untuk memprediksi tren, dan mengurangi kejutan tak terduga.
6. Pengetahuan adalah leverage terbaik. Setelah mengalami kerugian besar, saya berlangganan kursus profesional, belajar strategi lanjutan seperti lindung nilai opsi, melakukan review jurnal trading bulanan, dan mengubah kegagalan menjadi pertumbuhan.
7. Jangan sampai trading menjadi obsesi. Kerugian besar mengajarkan saya bahwa kekayaan bukan segalanya; luangkan waktu lebih banyak untuk keluarga dan berolahraga, jaga kesehatan mental dan fisik, agar bisa bertahan lama di pasar.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Berikut beberapa pengalaman yang ingin saya bagikan
1. Aset tunggal mudah menjadi sasaran. Saya belajar membagi dana ke berbagai bidang seperti saham, forex, komoditas, dan lain-lain, dengan tujuan agar kerugian tidak melebihi 5% dari total dana, untuk mengurangi dampak badai pasar.
2. Emosi adalah musuh utama dalam trading. Dulu saya sering bertindak berdasarkan intuisi, sekarang saya mengandalkan indikator kuantitatif seperti moving average dan indeks volatilitas, serta alat analisis AI, untuk memastikan setiap transaksi didukung data.
3. Ketakutan dan keserakahan adalah pedang bermata dua. Saya melakukan meditasi harian dan mencatat jurnal trading untuk memantau fluktuasi emosi, serta membangun kebiasaan “berhenti sesuai rencana”, agar terhindar dari jebakan mengejar kenaikan dan menjual saat jatuh.
4. Kerugian besar terjadi karena tidak memiliki stop loss. Sekarang saya menetapkan stop loss dinamis berdasarkan fluktuasi pasar, dan menegakkan aturan take profit secara ketat, agar keuntungan terkunci dan tidak menguap.
5. Trading tidak hanya melihat grafik. Saya memperhatikan peristiwa global seperti kebijakan Federal Reserve dan konflik geopolitik, menggunakan kalender ekonomi untuk memprediksi tren, dan mengurangi kejutan tak terduga.
6. Pengetahuan adalah leverage terbaik. Setelah mengalami kerugian besar, saya berlangganan kursus profesional, belajar strategi lanjutan seperti lindung nilai opsi, melakukan review jurnal trading bulanan, dan mengubah kegagalan menjadi pertumbuhan.
7. Jangan sampai trading menjadi obsesi. Kerugian besar mengajarkan saya bahwa kekayaan bukan segalanya; luangkan waktu lebih banyak untuk keluarga dan berolahraga, jaga kesehatan mental dan fisik, agar bisa bertahan lama di pasar.