Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Dari Anak Ajaib hingga Peringatan: Bagaimana Orang Tua Kiarash Hossainpour Tidak Bisa Menyelamatkannya
Kisah Kiarash Hossainpour lebih dari sekadar kisah seorang investor muda yang kehilangan kekayaannya. Ini adalah pelajaran tentang bahaya mendapatkan kekayaan dengan cepat di dunia cryptocurrency – dan bagaimana bahkan orang tua yang penuh kasih pun tidak mampu melindungi anak-anak mereka dari jebakan dunia keuangan digital. Pria berusia 22 tahun ini, keturunan Jerman-Iran, mewakili generasi yang tumbuh dalam euforia Bitcoin dan mengabaikan suara peringatan dari orang tua mereka.
Warisan Orang Tua: Bagaimana Keluarga Iran Menciptakan Seorang Penggemar Bitcoin
Kiarash Hossainpour lahir tahun 1999 di Berlin, sebagai anak dari keluarga Iran yang mencari perlindungan di Jerman dari kekacauan Revolusi Islam. Orang tuanya – terutama ayahnya, seorang ahli komputer – berusaha membimbing anak mereka ke jalan yang stabil. Sang ayah bukan orang yang mudah diperkirakan: Ia berasal dari keluarga kaya yang kehilangan kekayaannya akibat gejolak politik di Iran. Pengalaman ini membentuk pandangannya terhadap uang secara mendalam.
Sejak dini, orang tua Kiarash berusaha menanamkan kewaspadaan. Ketika anak laki-lakinya yang berusia sepuluh tahun ingin mencoba taruhan olahraga online, ayahnya langsung melarang. Pesannya jelas: “Kalau komputer bisa membantumu menghasilkan uang, pelajari dulu pemrograman.” Kebijaksanaan ayah ini kemudian menjadi kontras yang menyedihkan – karena Kiarash memang bisa memprogram, tetapi pelajaran tentang kehati-hatian finansial diabaikannya.
Perkembangan Cepat: Dari Nasihat Ayah ke Spekulasi Bitcoin
Pada usia 13 tahun, Kiarash memulai saluran YouTube pertamanya, awalnya dengan tips tentang game Grand Theft Auto. Tapi seperti banyak autodidak generasinya, ia segera memiliki ambisi lebih besar. Ia membuat situs WordPress dengan biaya kurang dari 30 dolar per situs – sampai akhirnya pada tahun 2014, ia menerima pembayaran pertamanya dalam Bitcoin.
Momen ini menjadi titik balik. Mata uang baru ini memikatnya: virtual, terdesentralisasi, tidak dikendalikan negara. Pada musim gugur 2015, Kiarash mengambil langkah besar – ia menginvestasikan hampir 40.000 euro ke Bitcoin. Pertanyaan orang tuanya tentang keabsahan dan keaslian “mata uang” ini dengan mudah diabaikan. Yang tidak mampu mereka lakukan, terutama ayahnya, adalah meyakinkan anak mereka bahwa angka-angka digital di layar itu bukan kekayaan nyata.
Ayahnya terus memperingatkan: “Yang terpenting adalah berhati-hati, lanjutkan studi, dan jangan lupa bahwa jutaan ini hanyalah angka di layar.” Tapi semakin angka itu naik, semakin kecil pula suara nasihat orang tuanya didengar Kiarash.
Transformasi Menjadi “Influencer Sukses”
Dengan kekayaan Bitcoin yang terus meningkat, Kiarash mulai memasarkan dirinya sebagai contoh keberhasilan. Kanal keuangan di YouTube-nya berkembang pesat, ratusan ribu pengikut berkumpul. Secara kasat mata, kontennya tampak bertanggung jawab: “Investasikan hanya apa yang bisa kamu relakan, jangan sampai mengganggu kebutuhan hidup.” Tapi gambarnya berbicara lain – seorang 20 tahun mengemudi Lamborghini atau Rolls-Royce, menghisap cerutu Kuba. Kontras yang disengaja: mengajarkan kehati-hatian sambil memamerkan kemewahan.
Niat orang tuanya – kesederhanaan dan kehati-hatian finansial – sudah hilang. Pada usia 18 tahun, Kiarash sudah menjadi miliarder secara nominal. Tapi kekayaannya dibangun di atas fondasi yang sangat volatil.
Luna dan Batas Akal Digital
Tahun 2022 menunjukkan betapa rapuhnya bangunan ini. Pasar cryptocurrency mengalami kejatuhan besar. Bitcoin turun dari rekor tertingginya 67.205 euro pada November 2021 ke sebagian kecil dari nilainya. Tapi itu bukan yang terburuk yang menimpa Kiarash.
Kejadian paling parah adalah Luna, sebuah cryptocurrency yang ia pertaruhkan dengan semangat messianic di videonya. Pada Mei 2022, Luna kehilangan 99 persen nilainya – hampir seketika. Kiarash kehilangan hingga 90 persen dari seluruh portofolio digitalnya. Dalam satu hari, kekayaannya yang berusia 22 tahun hampir hilang sama sekali.
Ketika Kiarash kemudian menceritakan kejadian ini kepada Business Insider Jerman, ia mengakui bahwa “insting keenam” – naluri yang membuatnya terkenal sebagai influencer – benar-benar gagal. Penyebab kejatuhan Luna? “Kegagalan tim di balik proyek,” katanya. Ini adalah alasan yang tidak hanya menyakitinya, tetapi juga semua pengikut yang mengikuti nasihatnya.
Clark Howard, penasihat pasar saham dan pembawa acara radio terkenal dari Amerika, menyimpulkan secara lugas: “Seorang pria yang tidak bertanggung jawab yang telah membuat ribuan orang tak bersalah bangkrut.”
Pelajaran Orang Tua yang Hilang
Yang tersisa adalah kegagalan dramatis – bukan hanya kekayaan yang hilang, tetapi juga pendidikan orang tua. Meski orang tuanya berusaha keras dan memperingatkan tentang angka digital, Kiarash terjebak dalam ilusi cryptocurrency. Pelajaran rasional yang dipelajari keluarganya dari pelarian mereka dari Revolusi Iran – kehati-hatian, kesederhanaan, nilai-nilai sejati – tertutup oleh euforia YouTube dan keinginan cepat kaya.
Yang menarik, meskipun mengalami kerugian besar, Kiarash tidak sepenuhnya menyerah. Ia meyakinkan Business Insider bahwa ia akan tetap berinvestasi di Bitcoin. Ia beralasan bahwa “kerugian yang terus bertambah adalah bagian dari permainan” dan bahwa “investor strategis” sejati tidak panik. Apakah sikap ini bijaksana atau sekadar rasionalisasi, tetap menjadi pertanyaan.
Kisah Kiarash Hossainpour dan orang tuanya adalah contoh peringatan dari era di mana aset digital bisa menghancurkan tabungan jutaan orang – dan nasihat orang tua, sebaik apapun, kadang tak mampu melawan arus euforia teknologi.