Psikologi perdagangan sebenarnya cukup menarik, banyak kali kerugian kita bukan karena strategi yang salah, tetapi karena efek psikologis kita sendiri yang mengacaukannya.



Yang paling umum adalah efek disposisi. Singkatnya, kita sangat suka menjual posisi yang sudah menguntungkan lebih awal, tetapi keras kepala memegang posisi yang merugi. Alasan di balik ini sebenarnya cukup dalam, satu adalah ketakutan terhadap kerugian, orang jauh lebih takut rugi daripada ingin untung, jadi mereka lebih memilih untuk tetap memegang posisi daripada mengaku rugi. Yang lain adalah disonansi kognitif, ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, kita akan membuat cerita untuk menghibur diri sendiri, memberi tahu bahwa jika kita menunggu lagi, saham yang merugi akan rebound.

Akibat dari efek disposisi sebenarnya cukup serius. Memegang posisi yang merugi dalam jangka panjang, menjual posisi yang menguntungkan terlalu awal, akhirnya keuntungan pasti akan terpangkas separuh. Selain itu, hal ini juga akan menyebabkan dana terkonsentrasi pada aset yang merugi, tingkat diversifikasi portofolio menurun, dan risiko justru meningkat. Belum lagi rasa cemas setiap hari melihat posisi yang merugi, benar-benar bisa mempengaruhi mental.

Bagaimana cara menghindarinya? Pertama, harus memiliki rencana perdagangan yang jelas, tuliskan kondisi masuk dan keluar, rencana manajemen risiko, lalu patuhi rencana ini, jangan biarkan fluktuasi pasar atau emosi mengubahnya. Secara rutin tinjau kembali portofolio, pastikan posisi masih sesuai dengan tujuanmu. Selain itu, jangan terlalu percaya diri dengan prediksi sendiri, lakukan riset lebih banyak, dan jika perlu, latihan dengan akun demo.

Ada satu efek lain yang juga patut diperhatikan, yaitu efek kebanggaan. Fenomena ini mengatakan bahwa kita cenderung terlalu menilai tinggi apa yang sudah kita miliki. Setelah membeli sebuah saham, kita entah kenapa merasa bahwa saham tersebut lebih berharga dari nilai sebenarnya, bahkan ketika pasar memberi tahu kita untuk menjual, kita tetap sulit melepasnya.

Efek kebanggaan sebenarnya juga berasal dari ketakutan terhadap kerugian. Kita takut kehilangan apa yang sudah dimiliki, jadi cenderung mempertahankan keadaan saat ini. Dan kita sering mengabaikan biaya peluang, hanya melihat apa yang kita miliki, tetapi tidak melihat peluang investasi lain yang lebih baik.

Dalam trading, efek kebanggaan akan membuat keputusan menjadi sangat subjektif. Kamu mungkin akan terlalu menilai sebuah aset karena ada perasaan tertentu, sehingga akhirnya membuat keputusan beli atau jual yang tidak rasional. Beberapa orang akan keras kepala mempertahankan posisi yang ada, bahkan menolak membeli aset baru yang tampaknya memiliki potensi lebih besar.

Untuk melawan efek kebanggaan, kuncinya adalah fokus pada nilai pasar aktual dari aset tersebut, bukan berapa banyak kamu ingin aset itu bernilai. Tentukan tujuan investasimu dengan jelas, lalu evaluasi secara objektif apakah posisi tersebut masih sesuai dengan tujuan tersebut. Membangun portofolio yang terdiversifikasi juga sangat penting, sehingga kamu tidak terlalu bergantung pada satu aset saja, dan tidak mudah terpengaruh oleh efek kebanggaan.

Singkatnya, keberhasilan dalam trading lebih banyak bergantung pada kekuatan mental daripada analisis teknikal. Sadari keberadaan efek-efek ini, lalu secara sengaja melawannya, agar bisa membuat keputusan yang lebih objektif dan rasional.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan