Dalam survei sebelumnya terhadap pembaca, kami mengetahui bahwa distribusi usia pembaca KY paling terkonsentrasi di rentang 18-25 tahun, diikuti oleh 25-30 tahun. Dan usia 18-30 tahun, terutama 18-25 tahun, adalah masa perkembangan manusia yang banyak menjadi perhatian akademik sejak tahun 2000. Masa ini disebut sebagai “awal dewasa” (Emerging adulthood), yang secara harfiah diterjemahkan sebagai “masa dewasa yang sedang terbentuk” sangat tepat. Ini adalah tahap perkembangan dari akhir masa remaja ke usia dua puluhan (from the late teens through the twenties), khususnya merujuk pada usia 18-25 tahun.
Bagi sebagian besar pemuda, masa ini adalah periode di mana banyak perubahan penting terjadi. Masa ini bukan masa pubertas maupun masa dewasa penuh, dan individu di usia ini menghadapi banyak situasi dan tantangan unik, yang saya yakin banyak dari kalian juga sudah merasakannya.
Hari ini, kita akan membahas secara mendalam tentang keunikan masa usia ini, semoga dapat membantu kalian menjalani tahun 2016 yang sudah datang.
Awal Dewasa:
Jalan Penuh Ketidakpastian
“Ketika ibu saya seusia saya, dia sudah bertunangan. Pada generasi mereka, di usia ini, mereka sudah punya gambaran minimal tentang apa yang harus dilakukan dalam hidup mereka. Lalu saya? Saya masih kuliah, belajar dua jurusan yang tidak banyak berkaitan (ilmu politik dan bahasa Mandarin), belum ada cincin di jari saya, saya bahkan belum tahu siapa diri saya, apalagi apa yang ingin saya lakukan di masa depan. Saya benar-benar bingung… Tapi, meskipun tekanan besar, saya harus akui ini adalah masa yang sangat menggembirakan. Kadang-kadang, ketika saya memikirkan masa depan yang jauh, saya bisa merasakan sesuatu dari kekosongan itu. Saya sadar, tidak ada yang bisa saya andalkan di depan sana, jadi saya harus mengandalkan diri sendiri mulai sekarang; saya juga menyadari bahwa tidak ada satu arah pun yang pasti, dan itu berarti saya harus membangun arah saya sendiri.” (Kristen, 22 tahun)
Generasi sebelumnya, selama usia 18-25 tahun, biasanya sudah menyelesaikan pilihan pernikahan/keluarga dan karier. Masa ini bagi mereka hanyalah masa transisi sederhana menuju peran dewasa yang stabil. Mereka jarang (atau menunda bertahun-tahun) mengalami perjuangan dan rasa sakit yang kita alami di masa ini.
Situasi kita jauh berbeda—sejak lebih dari setengah abad terakhir, di daerah dengan tingkat urbanisasi tinggi, usia menikah dan memiliki anak umumnya tertunda hingga setelah usia 25 tahun. Perpanjangan masa studi juga merupakan perubahan sosial yang terjadi selama beberapa dekade terakhir, dan mendapatkan pendidikan tingkat tinggi setelah lulus kuliah menjadi semakin umum. Banyak janji dan tanggung jawab dewasa yang tertunda, sementara eksplorasi dan eksperimen terhadap peran diri sendiri sejak masa remaja terus berlangsung. Faktanya, bagi generasi ini, eksplorasi terhadap peran diri sendiri di awal dewasa jauh lebih intens daripada masa pubertas. Rentang usia 18-30 tahun, khususnya 18-25 tahun, menjadi tahap kehidupan yang unik dan berbeda secara signifikan dari tahap lain. Perubahan yang sering terjadi dan pencarian kemungkinan hidup adalah ciri utama dari masa ini. Pada akhir masa ini, mendekati usia 30 tahun, sebagian besar orang telah membuat pilihan hidup yang akan berpengaruh jangka panjang. Penelitian menunjukkan bahwa ketika orang dewasa meninjau kembali “peristiwa paling penting yang terjadi dalam hidup mereka,” mereka sering merujuk pada kejadian-kejadian yang terjadi selama periode ini.
Usia 18-25 tahun bukan pubertas maupun masa dewasa awal, melainkan masa yang istimewa. Pada tahap ini, orang mulai melepaskan ketergantungan penuh, tetapi belum sepenuhnya memiliki tanggung jawab yang seharusnya dimiliki orang dewasa. Banyak hal yang belum pasti dalam hidup mereka, hampir tidak ada yang pasti, dan tingkat eksplorasi terhadap peran hidup mereka sangat luas, melebihi tahap lain mana pun.
Psikolog Keniston menggambarkan masa ini sebagai “ketegangan antara diri sendiri dan masyarakat,” serta “penolakan terhadap sepenuhnya sosialisasi ke dalam masyarakat.”
Masa Paling Membingungkan dalam Hidup
Data dari Biro Statistik Penduduk AS tahun 1997 menunjukkan bahwa di usia 12-17 tahun, lebih dari 95% tinggal bersama orang tua, lebih dari 98% belum menikah, kurang dari 10% memiliki anak, dan lebih dari 95% masih bersekolah—standar kehidupan yang berlaku sebelum usia 18 tahun. Pada usia 30 tahun, standar kehidupan lain muncul: lebih dari 75% sudah menikah, sekitar 75% sudah menjadi orang tua, dan kurang dari 10% masih bersekolah (data ini agak usang, kondisi saat ini mungkin sudah berbeda).
Namun, di antara dua tahap kehidupan ini, terutama usia 18-25 tahun, sulit untuk menilai status seseorang hanya dari usia saja. Mereka mungkin sudah menikah, atau belum; masih bersekolah, atau tidak. Ketidakpastian ini jelas mencerminkan karakter eksperimental dari masa ini. Psikolog Jeffrey Jensen Arnett mengutip konsep “the roleless role” yang diajukan oleh Talcott Parsons pada tahun 1942—yaitu keadaan “tanpa peran yang jelas” untuk menggambarkan status orang di awal dewasa. Pada tahap ini, mereka masih jarang terikat oleh identitas peran seperti suami/istri, ayah/ibu. Ketidakpastian ini menyebabkan kondisi hidup mereka menjadi sangat tidak pasti.
Dalam tahap ini, status hidup dan identitas peran tidak stabil dan kacau. Data dari AS menunjukkan bahwa sekitar sepertiga individu di awal dewasa akan masuk universitas setelah lulus SMA, dan selama beberapa tahun kuliah mereka menjalani kehidupan “mandiri” sekaligus “terus bergantung pada orang tua.” Misalnya, mereka kadang tinggal di asrama atau rumah sewaan, kadang kembali ke rumah orang tua. Kondisi ini disebut “semi-autonomy,” karena mereka menanggung sebagian tanggung jawab hidup mandiri, tetapi sebagian lagi tetap bergantung pada orang tua dan orang dewasa lain.
Pada awal dewasa, alasan utama mereka meninggalkan rumah orang tua untuk tinggal sendiri adalah pekerjaan penuh waktu dan tinggal bersama pasangan. Kurang dari 10% pria dan 30% wanita tinggal di rumah sampai menikah (data AS 1994). Masa awal dewasa adalah tahap kehidupan di mana orang berpindah-pindah tempat tinggal paling sering. Perubahan ini jelas terkait dengan sifat eksploratif dari masa ini, karena biasanya terjadi setelah satu fase eksplorasi selesai dan fase lain mulai (misalnya, selesai studi dan mulai pekerjaan baru).
Menuju usia mendekati 30 tahun, yaitu masa transisi dari awal dewasa ke dewasa muda, kondisi kacau dan tidak stabil ini mulai berkurang. Biasanya, antara usia 25-30 tahun, orang membuat keputusan penting yang akan berpengaruh seumur hidup, seperti memilih pasangan hidup dan jalur karier.
Faktor apa yang membuat orang merasa benar-benar dewasa?
Berbagai studi menunjukkan bahwa orang di awal dewasa secara subjektif merasa belum sepenuhnya dewasa. Bahkan, di usia 28, 29, dan 31 tahun, sekitar sepertiga orang merasa belum “benar-benar memasuki masa dewasa.” Kebanyakan merasa telah memasuki masa dewasa di beberapa aspek, tetapi belum di aspek lain. Mereka merasa tidak seperti remaja maupun orang dewasa, berada di antara keduanya.
Kita mungkin berpikir bahwa perasaan tidak sepenuhnya dewasa ini dipengaruhi oleh faktor ketidakstabilan yang telah disebutkan sebelumnya. Kita beranggapan bahwa, bagi kaum muda, sulit merasa dewasa sepenuhnya sebelum mereka mendapatkan tempat tinggal yang stabil, menyelesaikan studi, menemukan jalur karier, dan menikah (atau setidaknya memiliki hubungan yang stabil dalam jangka panjang). Tapi kenyataannya, faktor-faktor ini berpengaruh kecil terhadap persepsi diri mereka.
Lalu, faktor apa yang benar-benar membuat kita merasa dewasa?
Penelitian menunjukkan bahwa karakteristik yang terkait individualisme, terutama tiga hal berikut, paling berpengaruh terhadap persepsi “apakah kita merasa dewasa”:
Menerima tanggung jawab terhadap diri sendiri (have been accepting responsibility for one’s self)
Membuat keputusan secara mandiri (making independent decisions)
Mencapai kemandirian finansial (becoming financially independent)
Ketiga karakteristik ini mencerminkan bahwa selama awal dewasa, fokus perkembangan pribadi adalah menjadi orang yang “mandiri dan cukup” (a self-sufficient person). Setelah hal ini tercapai, barulah terjadi perubahan subjektif.
Perlu dicatat bahwa “menjadi orang tua” meskipun tidak umum di awal dewasa, tetapi begitu seseorang menjadi orang tua, pengalaman subjektif mereka sangat dipengaruhi oleh identitas ini. Setelah menjadi orang tua, perhatian mereka beralih dari tanggung jawab terhadap diri sendiri ke tanggung jawab terhadap anak-anak mereka. Faktor ini dapat secara signifikan mempercepat persepsi mereka terhadap “keterpaan dewasa,” karena eksplorasi dan eksperimen di masa ini menjadi terbatas.
Apa saja yang harus kita lakukan dalam masa awal dewasa untuk eksplorasi diri?
Dalam masa ini, kita perlu mengeksplorasi tiga aspek utama: identitas diri dalam cinta, pekerjaan, dan pandangan dunia. Pembentukan identitas diri melibatkan mencoba berbagai kemungkinan di ketiga bidang ini, lalu secara bertahap membuat keputusan yang akan berdampak jangka panjang (misalnya, memilih jalur karier, pasangan hidup).
Dalam bidang cinta, remaja di AS biasanya mulai berkencan antara usia 12-14 tahun, tetapi saat itu mereka jauh dari pertimbangan serius tentang pernikahan. Mereka berkumpul untuk berkencan, sering menghadiri pesta dan dansa. Bagi remaja, berkencan memberi mereka teman, pengalaman romantis, dan pengalaman awal tentang seks. Tapi sangat jarang pasangan remaja bertahan sampai akhir. Di awal dewasa, pencarian cinta menjadi lebih dekat dan serius. Saat ini, berkencan lebih sering dilakukan secara satu lawan satu, dan hiburan dari berkencan tidak lagi menjadi fokus utama. Mereka mulai mengeksplorasi kemungkinan kedekatan emosional dan fisik.
Pada usia ini, hubungan romantis biasanya lebih tahan lama dan lebih mungkin melibatkan aktivitas seksual, bahkan tinggal bersama. Jadi, pencarian cinta di masa pubertas bersifat coba-coba dan sementara, pertanyaan utama remaja saat ini adalah: “Dengan siapa aku lebih menikmati waktu?” Sedangkan di awal dewasa, pencarian cinta lebih dalam dan mendalam, dan pertanyaan utama adalah: “Jenis pasangan seperti apa yang aku inginkan untuk seumur hidupku?”
Karier juga menjadi kata kunci di tahap ini. Pemuda di awal dewasa menerima pendidikan dan pelatihan tertentu yang menjadi dasar penghasilan dan jalur karier mereka di masa depan. Mereka mulai mempertimbangkan bagaimana pengalaman kerja ini akan membangun fondasi untuk pekerjaan yang mereka inginkan di masa dewasa. Mereka harus bertanya pada diri sendiri: “Apa keahlian saya? Pekerjaan apa yang akan membuat saya merasa puas dalam jangka panjang? Peluang apa yang saya miliki untuk mendapatkan pekerjaan terbaik di bidang saya?”
Di awal dewasa, individu yang sadar akan dirinya akan mencoba berbagai macam kursus dan jurusan sebagai persiapan masa depan. Di AS, pindah jurusan di universitas sangat umum, bahkan bisa lebih dari sekali. Mereka merasakan berbagai kemungkinan karier, lalu meninggalkannya dan mengejar yang lain. Selain itu, pendidikan di atas sarjana juga semakin umum. Program magister dan doktor memberi peluang lagi bagi pemuda untuk mengubah arah karier. Saat merancang jalur pendidikan mereka, mereka harus berpikir matang, bukan sekadar mengikuti arus, tetapi benar-benar ingin mendapatkan masa depan yang diinginkan melalui pilihan tersebut.
Namun, baik dalam cinta maupun pekerjaan, di awal dewasa, pencarian mereka tidak hanya untuk persiapan masa depan, tetapi juga untuk mendapatkan pengalaman hidup yang lebih luas sebelum mereka terikat oleh “tanggung jawab orang dewasa.” Saat ini, identitas peran dan janji jangka panjang belum muncul, dan mereka masih punya kesempatan untuk bereksperimen dengan hal-hal yang sulit dilakukan nanti. Bagi mereka yang menginginkan pengalaman romantis dan seksual yang banyak, masa awal dewasa adalah waktu yang tepat untuk eksplorasi—karena pengawasan orang tua berkurang, dan mereka belum mencapai usia pernikahan yang diharapkan masyarakat. Selain itu, ini juga waktu yang baik untuk mencoba pekerjaan dan pendidikan yang tidak biasa, seperti tahun jeda, magang, dan pengalaman lain yang paling banyak terjadi di usia ini, jauh melebihi tahap kehidupan lainnya.
Dibandingkan dengan mempersiapkan diri secara langsung untuk pilihan jangka panjang di masa depan, mendapatkan pengalaman dan pengalaman yang beragam sangat penting. Ini membantu mereka lebih memahami apa yang mereka sukai dan tidak sukai, sehingga dapat membuat keputusan yang lebih baik. Masa awal dewasa adalah masa emas untuk pengalaman ini, dan melewatkannya akan sangat disesali.
Dalam hal nilai, psikolog William Perry menemukan bahwa perubahan pandangan dunia selama awal dewasa adalah bagian paling inti dari perkembangan kognitif. Ia menunjukkan bahwa saat memasuki perguruan tinggi, pemuda biasanya membawa pandangan dunia yang mereka pelajari selama masa kanak-kanak dan remaja, sementara pendidikan di perguruan tinggi akan memperkenalkan mereka pada berbagai pandangan dunia yang berbeda. Dalam proses ini, mereka mulai mempertanyakan pandangan mereka sebelumnya. Sebagian besar orang akan menyadari bahwa mereka telah memperoleh pandangan dunia yang berbeda setelah lulus, dan pandangan ini akan terus direvisi di masa depan. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar kemungkinan mereka mengeksplorasi dan meninjau kembali pandangan dunia mereka.
Perlu dicatat bahwa eksplorasi diri di awal dewasa tidak selalu menyenangkan. Pencarian cinta bisa berakhir dengan kekecewaan, harapan yang hancur, dan penolakan. Eksplorasi pekerjaan bisa berujung pada ketidakmampuan menemukan pekerjaan yang ideal. Eksplorasi pandangan dunia bisa menyebabkan keruntuhan kepercayaan masa kecil, bahkan kepercayaan yang mereka pegang selama ini bisa hancur, dan belum tentu ada kepercayaan baru yang terbentuk.
Selain itu, ini adalah masa paling sepi dalam hidup. Di awal dewasa, pencarian identitas diri sering dilakukan sendiri. Mereka sudah tidak lagi bersama keluarga inti, tetapi juga belum membangun keluarga baru. Data dari AS menunjukkan bahwa usia 19-29 tahun adalah masa di mana orang lajang paling banyak melakukan kegiatan sendiri di waktu luang, dan juga paling banyak menyelesaikan studi dan pekerjaan secara mandiri. Singkatnya, usia ini adalah masa di mana lajang sendiri adalah hal yang umum dan tak terhindarkan.
Usia ini juga merupakan masa di mana perilaku berisiko tinggi meningkat, seperti mengemudi dalam keadaan mabuk dan perilaku berbahaya lainnya. Mereka mendapatkan pengawasan yang lebih sedikit dibanding remaja, dan belum terikat oleh identitas orang dewasa. Data menunjukkan bahwa setelah menikah dan memiliki anak, tingkat perilaku berisiko ini menurun secara signifikan.
Usia bukanlah standar yang kaku
Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar orang muda usia 18-25 tahun tidak menganggap diri mereka sudah sepenuhnya dewasa, sementara sebagian besar orang di atas 30 tahun merasa mereka sudah dewasa sepenuhnya.
Namun, kita harus menegaskan bahwa usia hanyalah perkiraan kasar. Usia 18 tahun adalah batas yang jelas karena kebanyakan orang menyelesaikan studi SMA, meninggalkan rumah orang tua, dan mendapatkan hak dewasa secara hukum. Tapi, transisi dari awal dewasa ke dewasa muda tidak lagi didasarkan pada usia. Ada orang yang sudah benar-benar dewasa di usia 19 tahun, dan ada yang belum di usia 29 tahun. Kebanyakan orang akan menyelesaikan proses ini sebelum usia 30 tahun.
Melalui artikel ini, saya percaya kalian sudah melihat bahwa masa awal dewasa adalah tahap yang tidak pasti. Segala sesuatu masih dalam proses, semuanya belum pasti. Perlu diingat bahwa tingkat eksplorasi setiap orang berbeda-beda. Tidak perlu merasa takut karena merasa telah melewatkan banyak hal setelah membaca ini. Salah satu keunggulan masa awal dewasa adalah ketidakpastian dan tidak adanya standar baku. Setiap orang bisa mengikuti keinginan dan kondisi mereka sendiri, mengejar apa yang mereka inginkan dan mampu.
Tahun 2015, salah satu pelajaran terpenting saya adalah: Saya pernah merasa takut, merasa tidak mampu berdiri sendiri di atas tanah dengan kekuatan sendiri; tetapi perlahan, saya menyadari bahwa saya mampu, dan saya akan menemukan jalan saya sendiri. Dan langkah terpenting dalam proses ini adalah memulai dengan penuh ketakutan dan keraguan.
Akhir kata, saya berikan satu kalimat untuk semua penggemar KY yang berada di masa awal dewasa:
“Take your time and be patient. Life itself will eventually answer all those questions it once raised for you.”
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
18-25 tahun: Mungkin saat tersulit dalam hidup - platform pertukaran cryptocurrency top kelas
18-25 tahun: Mungkin masa tersulit dalam hidup
Kata Pengantar:
Dalam survei sebelumnya terhadap pembaca, kami mengetahui bahwa distribusi usia pembaca KY paling terkonsentrasi di rentang 18-25 tahun, diikuti oleh 25-30 tahun. Dan usia 18-30 tahun, terutama 18-25 tahun, adalah masa perkembangan manusia yang banyak menjadi perhatian akademik sejak tahun 2000. Masa ini disebut sebagai “awal dewasa” (Emerging adulthood), yang secara harfiah diterjemahkan sebagai “masa dewasa yang sedang terbentuk” sangat tepat. Ini adalah tahap perkembangan dari akhir masa remaja ke usia dua puluhan (from the late teens through the twenties), khususnya merujuk pada usia 18-25 tahun.
Bagi sebagian besar pemuda, masa ini adalah periode di mana banyak perubahan penting terjadi. Masa ini bukan masa pubertas maupun masa dewasa penuh, dan individu di usia ini menghadapi banyak situasi dan tantangan unik, yang saya yakin banyak dari kalian juga sudah merasakannya.
Hari ini, kita akan membahas secara mendalam tentang keunikan masa usia ini, semoga dapat membantu kalian menjalani tahun 2016 yang sudah datang.
Awal Dewasa:
Jalan Penuh Ketidakpastian
“Ketika ibu saya seusia saya, dia sudah bertunangan. Pada generasi mereka, di usia ini, mereka sudah punya gambaran minimal tentang apa yang harus dilakukan dalam hidup mereka. Lalu saya? Saya masih kuliah, belajar dua jurusan yang tidak banyak berkaitan (ilmu politik dan bahasa Mandarin), belum ada cincin di jari saya, saya bahkan belum tahu siapa diri saya, apalagi apa yang ingin saya lakukan di masa depan. Saya benar-benar bingung… Tapi, meskipun tekanan besar, saya harus akui ini adalah masa yang sangat menggembirakan. Kadang-kadang, ketika saya memikirkan masa depan yang jauh, saya bisa merasakan sesuatu dari kekosongan itu. Saya sadar, tidak ada yang bisa saya andalkan di depan sana, jadi saya harus mengandalkan diri sendiri mulai sekarang; saya juga menyadari bahwa tidak ada satu arah pun yang pasti, dan itu berarti saya harus membangun arah saya sendiri.” (Kristen, 22 tahun)
Generasi sebelumnya, selama usia 18-25 tahun, biasanya sudah menyelesaikan pilihan pernikahan/keluarga dan karier. Masa ini bagi mereka hanyalah masa transisi sederhana menuju peran dewasa yang stabil. Mereka jarang (atau menunda bertahun-tahun) mengalami perjuangan dan rasa sakit yang kita alami di masa ini.
Situasi kita jauh berbeda—sejak lebih dari setengah abad terakhir, di daerah dengan tingkat urbanisasi tinggi, usia menikah dan memiliki anak umumnya tertunda hingga setelah usia 25 tahun. Perpanjangan masa studi juga merupakan perubahan sosial yang terjadi selama beberapa dekade terakhir, dan mendapatkan pendidikan tingkat tinggi setelah lulus kuliah menjadi semakin umum. Banyak janji dan tanggung jawab dewasa yang tertunda, sementara eksplorasi dan eksperimen terhadap peran diri sendiri sejak masa remaja terus berlangsung. Faktanya, bagi generasi ini, eksplorasi terhadap peran diri sendiri di awal dewasa jauh lebih intens daripada masa pubertas. Rentang usia 18-30 tahun, khususnya 18-25 tahun, menjadi tahap kehidupan yang unik dan berbeda secara signifikan dari tahap lain. Perubahan yang sering terjadi dan pencarian kemungkinan hidup adalah ciri utama dari masa ini. Pada akhir masa ini, mendekati usia 30 tahun, sebagian besar orang telah membuat pilihan hidup yang akan berpengaruh jangka panjang. Penelitian menunjukkan bahwa ketika orang dewasa meninjau kembali “peristiwa paling penting yang terjadi dalam hidup mereka,” mereka sering merujuk pada kejadian-kejadian yang terjadi selama periode ini.
Usia 18-25 tahun bukan pubertas maupun masa dewasa awal, melainkan masa yang istimewa. Pada tahap ini, orang mulai melepaskan ketergantungan penuh, tetapi belum sepenuhnya memiliki tanggung jawab yang seharusnya dimiliki orang dewasa. Banyak hal yang belum pasti dalam hidup mereka, hampir tidak ada yang pasti, dan tingkat eksplorasi terhadap peran hidup mereka sangat luas, melebihi tahap lain mana pun.
Psikolog Keniston menggambarkan masa ini sebagai “ketegangan antara diri sendiri dan masyarakat,” serta “penolakan terhadap sepenuhnya sosialisasi ke dalam masyarakat.”
Masa Paling Membingungkan dalam Hidup
Data dari Biro Statistik Penduduk AS tahun 1997 menunjukkan bahwa di usia 12-17 tahun, lebih dari 95% tinggal bersama orang tua, lebih dari 98% belum menikah, kurang dari 10% memiliki anak, dan lebih dari 95% masih bersekolah—standar kehidupan yang berlaku sebelum usia 18 tahun. Pada usia 30 tahun, standar kehidupan lain muncul: lebih dari 75% sudah menikah, sekitar 75% sudah menjadi orang tua, dan kurang dari 10% masih bersekolah (data ini agak usang, kondisi saat ini mungkin sudah berbeda).
Namun, di antara dua tahap kehidupan ini, terutama usia 18-25 tahun, sulit untuk menilai status seseorang hanya dari usia saja. Mereka mungkin sudah menikah, atau belum; masih bersekolah, atau tidak. Ketidakpastian ini jelas mencerminkan karakter eksperimental dari masa ini. Psikolog Jeffrey Jensen Arnett mengutip konsep “the roleless role” yang diajukan oleh Talcott Parsons pada tahun 1942—yaitu keadaan “tanpa peran yang jelas” untuk menggambarkan status orang di awal dewasa. Pada tahap ini, mereka masih jarang terikat oleh identitas peran seperti suami/istri, ayah/ibu. Ketidakpastian ini menyebabkan kondisi hidup mereka menjadi sangat tidak pasti.
Dalam tahap ini, status hidup dan identitas peran tidak stabil dan kacau. Data dari AS menunjukkan bahwa sekitar sepertiga individu di awal dewasa akan masuk universitas setelah lulus SMA, dan selama beberapa tahun kuliah mereka menjalani kehidupan “mandiri” sekaligus “terus bergantung pada orang tua.” Misalnya, mereka kadang tinggal di asrama atau rumah sewaan, kadang kembali ke rumah orang tua. Kondisi ini disebut “semi-autonomy,” karena mereka menanggung sebagian tanggung jawab hidup mandiri, tetapi sebagian lagi tetap bergantung pada orang tua dan orang dewasa lain.
Pada awal dewasa, alasan utama mereka meninggalkan rumah orang tua untuk tinggal sendiri adalah pekerjaan penuh waktu dan tinggal bersama pasangan. Kurang dari 10% pria dan 30% wanita tinggal di rumah sampai menikah (data AS 1994). Masa awal dewasa adalah tahap kehidupan di mana orang berpindah-pindah tempat tinggal paling sering. Perubahan ini jelas terkait dengan sifat eksploratif dari masa ini, karena biasanya terjadi setelah satu fase eksplorasi selesai dan fase lain mulai (misalnya, selesai studi dan mulai pekerjaan baru).
Menuju usia mendekati 30 tahun, yaitu masa transisi dari awal dewasa ke dewasa muda, kondisi kacau dan tidak stabil ini mulai berkurang. Biasanya, antara usia 25-30 tahun, orang membuat keputusan penting yang akan berpengaruh seumur hidup, seperti memilih pasangan hidup dan jalur karier.
Faktor apa yang membuat orang merasa benar-benar dewasa?
Berbagai studi menunjukkan bahwa orang di awal dewasa secara subjektif merasa belum sepenuhnya dewasa. Bahkan, di usia 28, 29, dan 31 tahun, sekitar sepertiga orang merasa belum “benar-benar memasuki masa dewasa.” Kebanyakan merasa telah memasuki masa dewasa di beberapa aspek, tetapi belum di aspek lain. Mereka merasa tidak seperti remaja maupun orang dewasa, berada di antara keduanya.
Kita mungkin berpikir bahwa perasaan tidak sepenuhnya dewasa ini dipengaruhi oleh faktor ketidakstabilan yang telah disebutkan sebelumnya. Kita beranggapan bahwa, bagi kaum muda, sulit merasa dewasa sepenuhnya sebelum mereka mendapatkan tempat tinggal yang stabil, menyelesaikan studi, menemukan jalur karier, dan menikah (atau setidaknya memiliki hubungan yang stabil dalam jangka panjang). Tapi kenyataannya, faktor-faktor ini berpengaruh kecil terhadap persepsi diri mereka.
Lalu, faktor apa yang benar-benar membuat kita merasa dewasa?
Penelitian menunjukkan bahwa karakteristik yang terkait individualisme, terutama tiga hal berikut, paling berpengaruh terhadap persepsi “apakah kita merasa dewasa”:
Ketiga karakteristik ini mencerminkan bahwa selama awal dewasa, fokus perkembangan pribadi adalah menjadi orang yang “mandiri dan cukup” (a self-sufficient person). Setelah hal ini tercapai, barulah terjadi perubahan subjektif.
Perlu dicatat bahwa “menjadi orang tua” meskipun tidak umum di awal dewasa, tetapi begitu seseorang menjadi orang tua, pengalaman subjektif mereka sangat dipengaruhi oleh identitas ini. Setelah menjadi orang tua, perhatian mereka beralih dari tanggung jawab terhadap diri sendiri ke tanggung jawab terhadap anak-anak mereka. Faktor ini dapat secara signifikan mempercepat persepsi mereka terhadap “keterpaan dewasa,” karena eksplorasi dan eksperimen di masa ini menjadi terbatas.
Apa saja yang harus kita lakukan dalam masa awal dewasa untuk eksplorasi diri?
Dalam masa ini, kita perlu mengeksplorasi tiga aspek utama: identitas diri dalam cinta, pekerjaan, dan pandangan dunia. Pembentukan identitas diri melibatkan mencoba berbagai kemungkinan di ketiga bidang ini, lalu secara bertahap membuat keputusan yang akan berdampak jangka panjang (misalnya, memilih jalur karier, pasangan hidup).
Dalam bidang cinta, remaja di AS biasanya mulai berkencan antara usia 12-14 tahun, tetapi saat itu mereka jauh dari pertimbangan serius tentang pernikahan. Mereka berkumpul untuk berkencan, sering menghadiri pesta dan dansa. Bagi remaja, berkencan memberi mereka teman, pengalaman romantis, dan pengalaman awal tentang seks. Tapi sangat jarang pasangan remaja bertahan sampai akhir. Di awal dewasa, pencarian cinta menjadi lebih dekat dan serius. Saat ini, berkencan lebih sering dilakukan secara satu lawan satu, dan hiburan dari berkencan tidak lagi menjadi fokus utama. Mereka mulai mengeksplorasi kemungkinan kedekatan emosional dan fisik.
Pada usia ini, hubungan romantis biasanya lebih tahan lama dan lebih mungkin melibatkan aktivitas seksual, bahkan tinggal bersama. Jadi, pencarian cinta di masa pubertas bersifat coba-coba dan sementara, pertanyaan utama remaja saat ini adalah: “Dengan siapa aku lebih menikmati waktu?” Sedangkan di awal dewasa, pencarian cinta lebih dalam dan mendalam, dan pertanyaan utama adalah: “Jenis pasangan seperti apa yang aku inginkan untuk seumur hidupku?”
Karier juga menjadi kata kunci di tahap ini. Pemuda di awal dewasa menerima pendidikan dan pelatihan tertentu yang menjadi dasar penghasilan dan jalur karier mereka di masa depan. Mereka mulai mempertimbangkan bagaimana pengalaman kerja ini akan membangun fondasi untuk pekerjaan yang mereka inginkan di masa dewasa. Mereka harus bertanya pada diri sendiri: “Apa keahlian saya? Pekerjaan apa yang akan membuat saya merasa puas dalam jangka panjang? Peluang apa yang saya miliki untuk mendapatkan pekerjaan terbaik di bidang saya?”
Di awal dewasa, individu yang sadar akan dirinya akan mencoba berbagai macam kursus dan jurusan sebagai persiapan masa depan. Di AS, pindah jurusan di universitas sangat umum, bahkan bisa lebih dari sekali. Mereka merasakan berbagai kemungkinan karier, lalu meninggalkannya dan mengejar yang lain. Selain itu, pendidikan di atas sarjana juga semakin umum. Program magister dan doktor memberi peluang lagi bagi pemuda untuk mengubah arah karier. Saat merancang jalur pendidikan mereka, mereka harus berpikir matang, bukan sekadar mengikuti arus, tetapi benar-benar ingin mendapatkan masa depan yang diinginkan melalui pilihan tersebut.
Namun, baik dalam cinta maupun pekerjaan, di awal dewasa, pencarian mereka tidak hanya untuk persiapan masa depan, tetapi juga untuk mendapatkan pengalaman hidup yang lebih luas sebelum mereka terikat oleh “tanggung jawab orang dewasa.” Saat ini, identitas peran dan janji jangka panjang belum muncul, dan mereka masih punya kesempatan untuk bereksperimen dengan hal-hal yang sulit dilakukan nanti. Bagi mereka yang menginginkan pengalaman romantis dan seksual yang banyak, masa awal dewasa adalah waktu yang tepat untuk eksplorasi—karena pengawasan orang tua berkurang, dan mereka belum mencapai usia pernikahan yang diharapkan masyarakat. Selain itu, ini juga waktu yang baik untuk mencoba pekerjaan dan pendidikan yang tidak biasa, seperti tahun jeda, magang, dan pengalaman lain yang paling banyak terjadi di usia ini, jauh melebihi tahap kehidupan lainnya.
Dibandingkan dengan mempersiapkan diri secara langsung untuk pilihan jangka panjang di masa depan, mendapatkan pengalaman dan pengalaman yang beragam sangat penting. Ini membantu mereka lebih memahami apa yang mereka sukai dan tidak sukai, sehingga dapat membuat keputusan yang lebih baik. Masa awal dewasa adalah masa emas untuk pengalaman ini, dan melewatkannya akan sangat disesali.
Dalam hal nilai, psikolog William Perry menemukan bahwa perubahan pandangan dunia selama awal dewasa adalah bagian paling inti dari perkembangan kognitif. Ia menunjukkan bahwa saat memasuki perguruan tinggi, pemuda biasanya membawa pandangan dunia yang mereka pelajari selama masa kanak-kanak dan remaja, sementara pendidikan di perguruan tinggi akan memperkenalkan mereka pada berbagai pandangan dunia yang berbeda. Dalam proses ini, mereka mulai mempertanyakan pandangan mereka sebelumnya. Sebagian besar orang akan menyadari bahwa mereka telah memperoleh pandangan dunia yang berbeda setelah lulus, dan pandangan ini akan terus direvisi di masa depan. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar kemungkinan mereka mengeksplorasi dan meninjau kembali pandangan dunia mereka.
Perlu dicatat bahwa eksplorasi diri di awal dewasa tidak selalu menyenangkan. Pencarian cinta bisa berakhir dengan kekecewaan, harapan yang hancur, dan penolakan. Eksplorasi pekerjaan bisa berujung pada ketidakmampuan menemukan pekerjaan yang ideal. Eksplorasi pandangan dunia bisa menyebabkan keruntuhan kepercayaan masa kecil, bahkan kepercayaan yang mereka pegang selama ini bisa hancur, dan belum tentu ada kepercayaan baru yang terbentuk.
Selain itu, ini adalah masa paling sepi dalam hidup. Di awal dewasa, pencarian identitas diri sering dilakukan sendiri. Mereka sudah tidak lagi bersama keluarga inti, tetapi juga belum membangun keluarga baru. Data dari AS menunjukkan bahwa usia 19-29 tahun adalah masa di mana orang lajang paling banyak melakukan kegiatan sendiri di waktu luang, dan juga paling banyak menyelesaikan studi dan pekerjaan secara mandiri. Singkatnya, usia ini adalah masa di mana lajang sendiri adalah hal yang umum dan tak terhindarkan.
Usia ini juga merupakan masa di mana perilaku berisiko tinggi meningkat, seperti mengemudi dalam keadaan mabuk dan perilaku berbahaya lainnya. Mereka mendapatkan pengawasan yang lebih sedikit dibanding remaja, dan belum terikat oleh identitas orang dewasa. Data menunjukkan bahwa setelah menikah dan memiliki anak, tingkat perilaku berisiko ini menurun secara signifikan.
Usia bukanlah standar yang kaku
Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar orang muda usia 18-25 tahun tidak menganggap diri mereka sudah sepenuhnya dewasa, sementara sebagian besar orang di atas 30 tahun merasa mereka sudah dewasa sepenuhnya.
Namun, kita harus menegaskan bahwa usia hanyalah perkiraan kasar. Usia 18 tahun adalah batas yang jelas karena kebanyakan orang menyelesaikan studi SMA, meninggalkan rumah orang tua, dan mendapatkan hak dewasa secara hukum. Tapi, transisi dari awal dewasa ke dewasa muda tidak lagi didasarkan pada usia. Ada orang yang sudah benar-benar dewasa di usia 19 tahun, dan ada yang belum di usia 29 tahun. Kebanyakan orang akan menyelesaikan proses ini sebelum usia 30 tahun.
Melalui artikel ini, saya percaya kalian sudah melihat bahwa masa awal dewasa adalah tahap yang tidak pasti. Segala sesuatu masih dalam proses, semuanya belum pasti. Perlu diingat bahwa tingkat eksplorasi setiap orang berbeda-beda. Tidak perlu merasa takut karena merasa telah melewatkan banyak hal setelah membaca ini. Salah satu keunggulan masa awal dewasa adalah ketidakpastian dan tidak adanya standar baku. Setiap orang bisa mengikuti keinginan dan kondisi mereka sendiri, mengejar apa yang mereka inginkan dan mampu.
Tahun 2015, salah satu pelajaran terpenting saya adalah: Saya pernah merasa takut, merasa tidak mampu berdiri sendiri di atas tanah dengan kekuatan sendiri; tetapi perlahan, saya menyadari bahwa saya mampu, dan saya akan menemukan jalan saya sendiri. Dan langkah terpenting dalam proses ini adalah memulai dengan penuh ketakutan dan keraguan.
Akhir kata, saya berikan satu kalimat untuk semua penggemar KY yang berada di masa awal dewasa:
“Take your time and be patient. Life itself will eventually answer all those questions it once raised for you.”
Sekian.