Pada 8 Juli 2026, Rick Rieder, Chief Investment Officer BlackRock—manajer aset terbesar di dunia—menyampaikan kepada CNBC bahwa perusahaan telah melakukan pengurangan moderat atas kepemilikan dan menyeimbangkan portofolio di perusahaan yang paling terkait langsung dengan kecerdasan buatan (AI). Per 31 Maret 2026, aset kelolaan BlackRock mencapai rekor US$13,9 triliun. Angka ini melampaui PDB sebagian besar negara, sehingga setiap langkah BlackRock menjadi sorotan utama pasar modal global.
Rieder menegaskan dalam wawancara bahwa penyesuaian ini merupakan "operasi rebalancing, bukan pembalikan." Ia menambahkan bahwa tim memangkas posisi pada perusahaan yang pendapatannya sangat bergantung pada pengembangan AI, sekaligus mengurangi eksposur ekuitas secara keseluruhan. BlackRock menekankan bahwa penyesuaian portofolio secara dinamis adalah proses berkelanjutan yang bertujuan mengoptimalkan imbal hasil yang disesuaikan dengan risiko. Rebalancing parsial seputar tema AI ini tidak menandakan pandangan bearish terhadap sektor tersebut, melainkan mencerminkan optimisasi portofolio secara taktis sebagai respons terhadap kondisi pasar saat ini.
Pernyataan ini menarik perhatian besar, bukan hanya karena besarnya BlackRock—mengelola aset klien lebih banyak daripada pesaing mana pun—tetapi juga karena timing-nya. Selama setahun terakhir, sektor AI mengalami lonjakan luar biasa. Sejak September 2025, Philadelphia Semiconductor Index naik sekitar 123%, namun setelah mencapai rekor tertinggi pada Juni 2026, indeks tersebut turun hampir 14%. Perdebatan utama di pasar kini bergeser dari "Apakah AI punya masa depan?" menjadi "Apakah valuasi AI sudah mencerminkan masa depan itu?"
Rebalancing, Bukan Bearish: Tiga Logika BlackRock dalam Pengurangan Kepemilikan
Untuk memahami pengurangan BlackRock baru-baru ini, penting membedakan tiga alasan berbeda: rebalancing portofolio, realisasi keuntungan dan kontrol risiko, serta penyesuaian bobot sektor. Ketiganya saling terkait namun tetap berbeda.
Rebalancing portofolio adalah praktik standar dalam manajemen aset institusi. Ketika suatu kelas aset bertambah berat dalam portofolio akibat kenaikan harga, institusi biasanya memangkas kepemilikan agar alokasi kembali ke rentang target. Pengurangan BlackRock kali ini difokuskan pada "perusahaan yang pendapatannya paling bergantung pada pengembangan AI"—saham-saham yang mencatat kenaikan terbesar selama setahun terakhir dan kemungkinan sudah melampaui bobot awal portofolio. Rieder menyebut langkah ini sebagai "memangkas pemenang, bukan keluar dari tema."
Realisasi keuntungan dan kontrol risiko menjadi lapisan pertimbangan kedua. Beberapa perusahaan terkait AI telah mengalami lonjakan valuasi, mendorong tim manajemen mengambil pendekatan lebih hati-hati dalam penentuan posisi. Dalam acara CNBC Juni lalu, Rieder menyampaikan bahwa "Magnificent Seven" saat ini diperdagangkan sekitar 26 kali pendapatan, dengan pertumbuhan pendapatan diproyeksikan di atas 20%. Meski valuasi belum masuk wilayah bubble karena pertumbuhan laba, risiko konsentrasi pasar meningkat—investor semakin mempertanyakan apakah pasar terlalu terfokus pada segelintir pemenang AI.
Pengurangan bobot sektor tunggal adalah hasil langsung dari rebalancing. BlackRock telah memangkas eksposur baik pada saham terkait AI maupun ekuitas secara keseluruhan. Rieder menyoroti kemungkinan perusahaan mengalokasikan modal ke sektor yang menjadi penerima manfaat adopsi AI dengan biaya lebih rendah—seperti produsen listrik, industri, dan pembangun infrastruktur—sektor-sektor yang berpotensi menangkap gelombang belanja pusat data berikutnya.
Ketiga alasan ini membentuk gambaran lengkap langkah BlackRock: bukan sinyal bearish terhadap AI, melainkan optimisasi proaktif risiko dan imbal hasil setelah reli besar di sektor AI.
Divergensi dan Konsensus di Wall Street: Investasi AI Memasuki "Era Selektivitas"
Rebalancing BlackRock bukanlah peristiwa tunggal. Awal Juli 2026, sejumlah institusi besar Wall Street mengeluarkan pernyataan. Meski strategi spesifik mereka berbeda, konsensus mulai terbentuk: investasi AI telah bergeser dari "kenaikan menyeluruh" ke fase baru "memilih pemimpin."
Goldman Sachs, dalam laporan strategi ekuitas global 7 Juli, mencatat bahwa perdagangan chip AI telah memasuki fase lebih selektif dan tidak lagi merekomendasikan "pembelian keranjang" sektor semikonduktor. Bank ini tetap bullish pada segmen seperti CPU, ASIC, memori, dan peralatan semikonduktor, secara khusus menyebut AMD dan Applied Materials sebagai pilihan utama. Goldman juga memproyeksikan belanja modal global AI terkait komputasi, pusat data, dan listrik akan mencapai sekitar US$7,6 triliun dari 2026 hingga 2031, dengan belanja tahunan naik dari US$765 miliar pada 2026 menjadi US$1,64 triliun pada 2031. Penyedia cloud hyperscale diperkirakan dapat menginvestasikan lebih dari US$6 triliun dalam AI hingga 2030.
J.P. Morgan mengambil sikap lebih agresif. Pada 6 Juli, analis Mislav Matejka mengatakan penurunan saham semikonduktor baru-baru ini seharusnya dilihat sebagai peluang beli. Prioritas sektor teknologi bank ini jelas: "Semikonduktor lebih diutamakan daripada penyedia cloud hyperscale, dan cloud hyperscale lebih diutamakan daripada saham konsep AI berisiko tinggi." J.P. Morgan percaya permintaan chip AI tetap dalam tren naik jangka panjang, dengan kapasitas baru belum akan hadir secara signifikan hingga sekitar 2028, menjaga dinamika permintaan-penawaran tetap sehat. Bank ini memproyeksikan ekuitas global akan mencetak rekor baru pada paruh kedua tahun ini.
Morgan Stanley lebih berhati-hati. Dalam laporan 6 Juli, analis Michael Wilson mengatakan bahwa ketika investor mulai melakukan rotasi dari saham teknologi yang berkinerja terbaik tahun ini, rekor tertinggi baru ekuitas AS bisa menghadapi hambatan. Bank ini melihat modal beralih dari saham chip ke penyedia cloud hyperscale—termasuk Microsoft, Amazon, dan Meta. Morgan Stanley menyarankan investor lebih fokus pada pencapaian laba dan kualitas, mempertahankan target S&P 500 akhir tahun di angka 8.000.
Bank of America dan UBS tetap optimis terhadap siklus jangka panjang semikonduktor AI. Bank of America menilai industri masih berada di pertengahan siklus pertumbuhan 8 hingga 10 tahun. UBS menyatakan kasus investasi jangka panjang AI tidak berubah, dan volatilitas jangka pendek semikonduktor memberi peluang bagi investor jangka panjang untuk membangun posisi secara bertahap.
Singkatnya, perdebatan Wall Street berpusat pada "apa yang dibeli," bukan "apakah harus membeli." Goldman menganjurkan pemilihan pemimpin hardware, J.P. Morgan merekomendasikan pembelian semikonduktor saat koreksi, dan Morgan Stanley mendorong rotasi ke layanan cloud—namun tidak satu pun dari institusi tersebut menyarankan meninggalkan pasar.
Dari Perdagangan Tema ke Perdagangan Laba: Evolusi Mendalam Logika Investasi AI
Rebalancing BlackRock dan beragam pandangan Wall Street menandakan pergeseran lebih dalam: logika utama investasi AI bergerak dari "narasi tematik" ke "validasi fundamental."
Selama dua tahun terakhir, reli sektor AI didorong oleh dua narasi: pertumbuhan eksponensial parameter model besar dan lonjakan permintaan daya komputasi. Kedua kisah ini masih relevan—Goldman memproyeksikan belanja modal cloud hyperscale akan melampaui US$760 miliar pada 2026, atau sekitar US$2 miliar per hari; model UBS memperkirakan permintaan HBM 2026 setara dengan 8,5 juta GPU AI Nvidia; organisasi World Semiconductor Trade Statistics memperkirakan pasar semikonduktor global mencapai US$1,51 triliun pada 2026.
Namun, pasar kini mengajukan pertanyaan baru: Bisakah belanja modal AI yang masif menghasilkan laba yang kuat? Hal ini mendorong modal berpindah dari saham teknologi berkapitalisasi besar ke beragam ekuitas lainnya. Morgan Stanley menyoroti bahwa meski perusahaan teknologi besar mencatat hasil Q3 yang kuat, kenaikan harga sahamnya tertinggal, sehingga valuasi turun. Pasar kini menuntut bukti konkret bahwa investasi AI besar-besaran mampu memberikan imbal hasil berkelanjutan—bukan sekadar belanja yang terus meningkat.
Inilah inti pergeseran dari "perdagangan tema ke perdagangan laba." Pada fase pertama, pasar memberi penghargaan pada saham apa pun yang terkait AI—"apa pun yang berbau AI akan reli." Di fase kedua, pasar mulai membedakan siapa yang benar-benar mampu meraup keuntungan dari komersialisasi AI dan siapa yang mampu memenuhi target laba. Pernyataan terbaru dari Goldman, J.P. Morgan, Morgan Stanley, dan BlackRock semuanya mengarah ke transisi ini.
Segmen AI Mana yang Masih Layak Dipantau?
Dalam "era selektivitas," modal kemungkinan mengalir ke area yang benar-benar mendapat manfaat dari komersialisasi AI. Berdasarkan pandangan sejumlah institusi, sektor-sektor berikut patut diperhatikan:
Chip AI (GPU dan ASIC). Goldman menilai CPU dan ASIC akan mendapat manfaat paling langsung dari ekspansi infrastruktur AI, dengan visibilitas permintaan tinggi. Bank ini memperkirakan penetrasi ASIC di server AI akan meningkat signifikan pada 2026. J.P. Morgan menjadikan Broadcom sebagai "strong buy" untuk sisa tahun 2026.
High Bandwidth Memory (HBM). Pelatihan dan inferensi AI yang berkelanjutan mendorong permintaan HBM dan memori canggih lainnya. Pada 2025, SK Hynix akan mendominasi pasar HBM, dengan Samsung dan SK Hynix bersama-sama menguasai lebih dari 80% pangsa global. UBS memproyeksikan permintaan industri HBM akan tumbuh 90% year-on-year pada 2026.
Pusat Data AI dan Cloud Computing. Morgan Stanley melihat modal beralih dari saham chip ke penyedia cloud hyperscale. HSBC menilai setelah koreksi sekitar 20%, valuasi penyedia cloud AI hyperscale kembali menarik. Goldman memperkirakan pada 2026, belanja modal di pusat data, semikonduktor, utilitas, dan pertahanan akan menyumbang lebih dari 40% total capex global, naik dari 25% pada 2022.
Peralatan Semikonduktor. Rencana pengadaan jangka panjang perusahaan global terkemuka menjadi penopang permintaan peralatan, dan sektor peralatan semikonduktor siap memasuki siklus naik kuat pada 2026–2027. Goldman bullish terhadap keunggulan Applied Materials dalam proses canggih dan capex memori.
Listrik dan Infrastruktur. Ekspansi daya komputasi AI terus mengubah permintaan energi, dengan konsumsi listrik pusat data kini menjadi pendorong utama baru kebutuhan listrik global. Rieder sendiri menyoroti bahwa produsen listrik, perusahaan industri, dan pembangun infrastruktur berpotensi menangkap gelombang belanja pusat data berikutnya.
Kesimpulan
Pengurangan sebagian saham AI oleh BlackRock bukan pertanda berakhirnya boom AI. Sebaliknya, ini menandai transisi investasi AI dari fase pertama ke fase kedua. Manajer aset terbesar dunia, dengan kelolaan US$13,9 triliun, sedang melakukan rebalancing. Goldman merekomendasikan "selektivitas daripada keranjang," J.P. Morgan mendorong "pembelian saat koreksi," dan Morgan Stanley menganjurkan "rotasi ke layanan cloud"—pandangan yang tampak berbeda namun berbagi premis yang sama: prospek jangka panjang AI tetap utuh, namun pendekatan investasi harus menyesuaikan.
Bagi investor, ini berarti Anda tidak lagi bisa sekadar "membeli seluruh sektor" dan berharap mendapat imbal hasil menyeluruh. Imbal hasil ke depan akan lebih bergantung pada analisis mendalam fundamental perusahaan, pencapaian laba, dan visibilitas permintaan di segmen tertentu. AI tetap menjadi tren teknologi paling penting dekade mendatang, namun imbal hasil beta sektor mulai bergeser ke peluang alpha di saham individual.
Seperti yang dikatakan Rieder dalam outlook Januari, 2026 akan "menghargai laba dan selektivitas." Pasar kini membuktikan pernyataan tersebut.
FAQ
T: Apakah pengurangan saham AI oleh BlackRock berarti bearish terhadap sektor AI?
Tidak. CIO BlackRock Rick Rieder menegaskan bahwa pengurangan ini adalah rebalancing portofolio, bukan pembalikan. Perusahaan menekankan bahwa ini adalah penyesuaian alokasi taktis berdasarkan kondisi pasar saat ini, bukan sinyal negatif terhadap prospek jangka panjang AI.
T: Bagaimana pandangan investasi AI Goldman Sachs, J.P. Morgan, dan Morgan Stanley berbeda?
Goldman tidak lagi merekomendasikan "pembelian keranjang" semikonduktor dan lebih memilih segmen seperti CPU dan ASIC. J.P. Morgan melihat koreksi semikonduktor sebagai peluang beli dan bullish terhadap permintaan chip jangka panjang. Morgan Stanley menganjurkan rotasi modal dari saham chip ke penyedia cloud hyperscale. Ketiganya sepakat pada potensi jangka panjang AI, namun berbeda dalam strategi alokasi spesifik.
T: Apakah investasi AI benar-benar memasuki ‘era selektivitas’?
Pernyataan terbaru sejumlah institusi besar Wall Street mengonfirmasi tren ini. Pasar bergeser dari "perdagangan konsep AI" ke "perdagangan laba AI"—modal kini tidak lagi mengejar semua saham terkait AI secara indiscriminatif, tetapi lebih fokus pada kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan kualitas fundamental.
T: Seberapa besar skala investasi infrastruktur AI?
Goldman Sachs memperkirakan dari 2026 hingga 2031, belanja modal global AI untuk komputasi, pusat data, dan listrik akan mencapai sekitar US$7,6 triliun, dengan investasi tahunan naik dari US$765 miliar pada 2026 menjadi US$1,64 triliun pada 2031. Penyedia cloud hyperscale bisa menginvestasikan lebih dari US$6 triliun dalam AI hingga 2030.
T: Apa peran aset kripto dalam portofolio institusi?
Dalam panduan portofolio yang lebih luas, BlackRock merekomendasikan alokasi 1% hingga 2% ke Bitcoin selain saham AI utama. Perusahaan memposisikan Bitcoin sebagai "diversifier pelengkap" untuk portofolio, dengan saran bahwa alokasi moderat dapat meningkatkan potensi imbal hasil sambil tetap menjaga toleransi risiko yang sesuai.




