Meskipun volume lebih rendah, pasar kripto Indonesia berkembang karena investor muda mendorong pertumbuhan dan kepemilikan jangka panjang.
Indonesia terus mengalami pertumbuhan dalam adopsi kripto seiring dengan meningkatnya partisipasi investor. Data dari regulator dan kelompok industri menunjukkan minat yang kuat dari investor muda, meskipun aktivitas perdagangan menurun. Tren populasi dan pengawasan regulasi membantu membentuk pasar yang lebih seimbang.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan bahwa kripto tetap menjadi investasi populer di kalangan anak muda Indonesia. Minat tetap kuat meskipun risiko tinggi terkait aset digital. Jumlah investor terus meningkat sepanjang 2025, meskipun volume perdagangan menurun dari tahun sebelumnya, menurut CNBC Indonesia.
Hasan Fauzi, Kepala Badan Pengawas Teknologi Informasi dan Komunikasi (ITSK), melaporkan bahwa transaksi kripto mencapai IDR 482,23 triliun pada 2025. Angka ini turun dari lebih dari IDR 650 triliun yang tercatat pada 2024.
Meski begitu, pertumbuhan konsumen terus meningkat. Indonesia mencatat 20,19 juta investor kripto terdaftar hingga akhir Desember 2025. Ia lebih jauh menggambarkan pertumbuhan jumlah investor ini sebagai sangat signifikan. Kebanyakan investor baru berasal dari kelompok usia muda, yang didominasi oleh populasi usia kerja.
Menurut Hasan, minat masyarakat terhadap kripto sangat terkait dengan tren demografis ini. Anak muda Indonesia lebih terbuka terhadap produk keuangan digital dan bersedia mengambil risiko lebih tinggi demi potensi pengembalian. Meskipun aktivitas perdagangan menurun dalam nilai, partisipasi meluas di seluruh populasi.
“Sekali lagi, meskipun transaksi lebih rendah dengan ukuran komponen pajak yang sama, kontribusi pajaknya jauh lebih tinggi. Hanya dalam bulan November saja, tercatat sebesar Rp 719,61 miliar.”
Hasan Fauzi, Kepala Badan Pengawas Teknologi Informasi dan Komunikasi (ITSK), mengatakan.
Nilai transaksi yang lebih rendah tidak mengurangi kontribusi sektor terhadap pendapatan negara. Kepala eksekutif juga mencatat bahwa aktivitas kripto di 2025 akan mendukung pendapatan pajak yang lebih tinggi. OJK melihat ini sebagai sinyal bagi trader aset digital dan platform untuk lebih aktif mematuhi regulasi dan kewajiban pajak.
Edisi ke-7 Laporan Indonesia Crypto & Web3 2025 menempatkan Indonesia di antara 10 pasar kripto teratas secara global. Menurut laporan tersebut, negara ini menempati peringkat keempat di kawasan Asia-Pasifik untuk nilai transaksi on-chain, bersama India, Korea Selatan, dan Vietnam.
Berdasarkan temuan survei dan data on-chain, laporan ini melacak perkembangan utama di pasar kripto Indonesia. Lebih dari 19 juta pengguna aktif melakukan perdagangan atau memegang kripto di negara ini. Data menunjukkan Indonesia sedang melewati tahap ritel awal dan membangun fondasi untuk partisipasi institusional.
Sementara itu, investor ritel terus mendominasi penggunaan kripto di Indonesia, meskipun perilaku perdagangan tampak terkendali. Hasil survei menunjukkan bahwa 58,2% pengguna memegang kripto sebagai investasi jangka panjang, sementara hanya 20,2% yang fokus terutama pada perdagangan jangka pendek.
Sekitar 93% warga Indonesia yang disurvei mengatakan mereka akrab dengan aset digital. Namun, sekitar 7% tetap di luar pasar karena pemahaman yang terbatas.
Melihat ke depan ke 2026, laporan ini menunjuk stablecoin, keterlibatan institusional, dan pendidikan sebagai area pertumbuhan utama. Beberapa stablecoin yang dipatok rupiah sudah beredar, dengan lebih banyak produk yang sedang dalam tinjauan di sandbox regulasi OJK.